Rabu, 22 Februari 2017

NHW5 Design Pembelajaran ala Nafsa Karima


Bismillahirrahmanirrahim

NHW #5 ini, Singkat. Praktek membuat Design Pembelajaran ala kita. Ala saya. Design Pembelajaran ala Nafsa Karima.

Design Pembelajaran, yang terlintas pertama kali di pikiran saya adalah RPP sewaktu masih mengajar dulu.. hihihii
Saya sebetulnya tidak ada basic membuat RPP. Kuliah Jurusan Teknologi Pangan tapi punya semangat mengajar anak-anak, SD terutama :)

Sebelum membuat Design Pembelajaran ala saya. Saya masih bingung sebetulnya dengan design pembelajaran itu sendiri. Apa sih design pembelajaran itu? Cari tahu dulu apa itu design pembelajaran, langsung tanya sama embah Google.

Saya menuliskan ini sambil terus memamah biak materi 5 Belajar Bagaimana Caranya Belajar dan NHW#5.

Akhirnya ketemu sama tulisan yang oke di sebuah blog pribadi. Desain pembelajaran menurut istilah dapat didefinisikan:

1. Proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan keterampilan pada diri pembelajar ke arah yang dikehendaki (Reigeluth).
2. Rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan (Briggs).
3. Proses untuk merinci kondisi untuk belajar, dengan tujuan makro untuk menciptakan strategi dan produk, dan tujuan mikro untuk menghasilkan program pelajaran atau modul atau suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah, dimana langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang, mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar (Seels & Richey AECT 1994).
4. Suatu proses desain dan sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen (Morisson, Ross & Kemp 2007).

-- Sumber : Isna Izakiya, Fungsi dan Pentingnya Perencanaan dan Design Pembelajaran, 2015 . (https://www.google.co.id/amp/s/isnaizakiya29.wordpress.com/2015/03/17/fungsi-dan-pentingnya-perencanaan-dan-desain-pembelajaran/amp/) --


Yes. Mulai memahami. Design pembelajaran yang saya tangkap adalah perencanaan yang dilakukan agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Bismillah, menurut saya hal yang pertama saat membuat Design Pembelajaran ala saya adalah menentukan dulu apa tujuan pembelajarannya. Apa tujuan kita belajar?

Jurusan yang saya ambil di Universitas Kehidupan ini adalah Parenting. Saat ini sedang mendalami bidang studi Pendidikan Anak Usia Dini. Maka tujuan dari saya belajar adalah menjadi ahli dalam bidang pendidikan anak usia dini.

Nah dari sini lalu dijabarkan agar tujuan pembelajaran tersebut bisa tercapai.

1. Mengapa saya belajar?
• Agar lebih dekat dengan Allah Yang Maha Pemilik Ilmu.
• Agar bisa memberikan manfaat untuk orang lain pada umumnya dan untuk anak saya pada khususnya (Kareem, 14 bulan).

2. Bagaimana cara saya belajar tentang pendidikan anak usia dini?
Dengan cara :
• Mengikuti webinar yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini (rumah inspirasi, rainbow castle, dll)
• Membaca website (indonesia montessori, rumah main anak, rumah inspirasi, dll)
• Ikut komunitas atau group(institut ibu profesional, rumah inspirasi, hhbf, dll)
• Membaca buku atau ebook
• Menggali informasi melalui fb dan ig orang yang lebih paham
• Menuliskan kembali ilmu yang saya dapatkan
• Mempraktekan langsung dan sharing dengan orang lain

3. Kapan waktu saya belajar?
• Fleksibel, ketika target pekerjaan domestik di hari itu telah selesai, ketika anak sudah tidur, ketika bermain bersama anak. Sesekali mengajak anak terlibat ketika saya sedang mencari informasi dari buku. Bisa juga ketika dalam perjalanan bersama suami (Ini paling efektif untuk berdiskusi dengan suami. Kami LDM dan weekend biasanya ke rumah mertua, di perjalanan kami mengobrol)
• Sesuai waktu yang ditentukan, misal webinar pada hari A jam B atau materi MIP tiap hari Selasa jam 08.00 pagi.

4. Berapa waktu yang saya gunakan untuk belajar dalam sehari?
Seperti dalam NHW#4 kemarin, saya mengalokasikan 6 jam/hari untuk mencari ilmu, menyiapkan kegiatan, mempraktekkan, dan menuliskan kegiatan saya bersama anak.

5. Dokumentasi apa yang saya gunakan dalam mempelajari pendidikan anak usia dini?
Saya menggunakan catatan untuk teori-teori pendidikan anak usia dini, hanya saja masih aga berantakan sebagian di notes HP, sebagian tertulis di binder, dan sebagian ada di laptop.
Untuk praktek saya mendokumentasikan kegiatan bersama anak dalam bentuk foto atau video yang kemudian saya share di fb dan ig. Semoga bisa menjadi inspirasi.

6. Dengan siapa saya belajar?
• Dengan suami dan anak
• Dengan orang terdekat di sekitar saya
• Dengan komunitas

7. Dimana saya belajar?
• Belajar bisa dilakukan dimana saja, disemua tempat di muka bumi ini



Alhamdulillah, ini adalah Design Pembelajaran ala saya.
Semoga Allah berkahi dan mudahkan jalan kita menuntut ilmu.

Salam Ibu Profesional,

Nafsa Karima
Bandung, 22 Februari 2017

Kamis, 16 Februari 2017

NHW4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah



Bismillahirrahmanirrahim

Masih semangat untuk terus belajar di Kelas Matrikulasi Ibu Profesional ini. Semoga bisa terus konsisten dan fokus belajar di kelas-kelas selanjutnya.. Ammiin

Kami diminta melihat kembali NHW sebelumnya. Dan saya sekarang mulai menemukan benang merahnya..
Bismillah..
.
.

NHW#1 Adab Menuntut Ilmu
Sampai hari ini saya masih TETAP memilih Jurusan Ilmu PARENTING di Universitas Kahidupan yang saya jalani. Hanya saja saat ini saya sedang mendalami Bidang Studi Pendidikan Anak Usia Dini di Jurusan Parenting tersebut.
.
.

NHW#2 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan
Sudahkah saya belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita?
BELUM.
Hal ini sudah ditanyakan oleh suami dan beliaupun mengingatkan saya tentang konsisten. Saat diingatkan oleh suami bagaimana reaksi saya? Saya menangis, saya sakit hati. Kenapa reaksi saya demikian? Karena apa yang dikatakan oleh suami BENAR. Saya belum konsisten dan beberapa checklist terlalu mudah.
Beri tau orang lain apa checklist kita, kata suami. Kenapa? Bukan agar orang lain mengingatkan jika kita lupa. Tapi biar kita MALU jika kita tidak melakukannya. Baiklah ini mungkin salah satu cara saya melatih dengan keras diri, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
.
.

NHW#3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah
Membaca dan merenung kembali. Semoga gak baper yang bikin galau. Hehe
Apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup akan makin terlihat.
Bismillah, JUST DO IT.
Bidang yang akan saya kuasai adalah Pendidikan Anak Usia Dini.
Misi hidup :
1. Memfasilitasi pendidikan anak usia dini
2. Memberikan inspirasi untuk orang tua lain tentang pendidikan anak usia dini
Bidang : Pendidikan Anak Usia Dini
Peran : Fasilitator dan Inspirator
.
.

Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup saya dan menjadi ahli di bidangnya adalah :
1. Mommy jadi Dokter, ilmu yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak usia dini
2. Mommy jadi Koki, ilmu yang berkaitan dengan Makanan Pendamping ASI. MPASI Rekomendasi WHO saya pelajari dari group FB Homemade Healty Baby Food (HHBF).
3. Mommy jadi Fasilitator, ilmu yang berkaitan dengan aktifitas stimulus keseharian anak yang sesuai dengan tahapan usia anak. Contohnya adalah mempelajari kurikulum / metode pendidikan anak usia dini atau memahami checklist indikator perkembangan anak sesuai tahapan usianya.
Poin 1 - 3 ini akan saya mantapkan dengan ilmu pengasuhan di Bunda Sayang.
4. Bunda cekatan, Ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
5. Bunda produktif, ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
6. Mommy berbagi, ilmu yang dibutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain agar tercipta komunikasi yang baik dan ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang. Ilmu ini akan saya pelajari lebih dalam di kelas Bunda Shaleha, insyaAllah.
.
.

Milestone yang saya tetapkan per 6 bulan, adalah  :
KM 0 – KM 1 (semester 1) : Menguasai Ilmu seputar tumbuh kembang anak usia dini
KM 1 - KM 2 (semester 2) : Menguasai Ilmu seputar MPASI anak
KM 2 - KM 3 (semester 3) : Menguasai Ilmu seputar stimulus untuk anak usia dini
KM 3 - KM 5 (semester 4 dan 5) : Menguasai ilmu seputar pengasuhan anak
KM 5 - KM 7 (semester 6 dan 7) : Menguasai ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
KM 7 - KM 9 (semester 8 dan 9) : Menguasai ilmu seputar ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll
KM 9 - KM 11 (semester 10 dan 11) : Menguasai Ilmu seputar komunikasi produktif dan Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

KM 0 saya adalah saat saya berusia 26 tahun, saat melahirkan Kareem. Saat ini saya sudah masuk semester ke-3, dan saya sedang belajar tentang ilmu seputar stimulus untuk anak usia dini. Dari sini saya akan memperdalam lagi tentang pengasuhan anak di IIP Bunda Sayang, insyaAllah.
Bismillah, saya mendedikasikan 6 jam/hari saya untuk mencari ilmu, menyiapkan kegiatan, mempraktekkan, dan menuliskan kegiatan bersama anak.
.
.

Sambil mengkoreksi kembali checklist saya di NHW#2, apakah sudah masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas? Belum.
Saatnya melakukan EVALUASI.
Indikator yang saya tambahkan dalam Checklist Profesionalisme Perempuan sebagai Individu adalah :
• Mengaji min. 1 lembar / hari
• Mendedikasikan waktu  6 jam / hari (mencari ilmu, menyiapkan kegiatan, mempraktekkan, dan menuliskan kegiatan bersama anak)

JUST DO IT
Lakukan.. lakukan.. lakukan.. !!!
Semoga Allah memberikan pemahaan yang baik 😊

Salam Ibu Profesional,
Nafsa Karima

Jumat, 10 Februari 2017

Tentang Kami


Bismillahirrahmanirrahim

Rasanya NHW#3 kali ini membuat perasaan mengalir begitu saja. Apa lagi ditambah Bandung yang diguyur hujan. Jadi semakin baper. Hehe.. tapi jadi semakin semangat.
Menuliskan surat cinta. Mas, saya ingin jatuh cinta terus padamu. Terus.. terus.. dan terus. Berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama, Suamiku.



Yes. Surat cinta sudah dibaca. Dan memang sudah tertebak hasilnya. Hehehe
Cerita sedikit ya, jalan 3 tahun kami menikah rasanya saya baru 2 kali melihat dengan jelas perubahan emosi suami. Pertama saat ijab kabul dan kedua saat saya akan melahirkan Kareem. Gugup.
Selebihnya, mungkin emosinya berubah-ubah, hanya saja suami saya lebih pintar menyembunyikannya. Tidak seperti saya yang lebih moody.

Selesai shalat subuh, saya katakan padanya, ada sesuatu yang ingin mas aziz baca. Saya berikan suratnya. Kondisi kamar agak gelap. Beberapa kali beliau menyeritkan alis. Selesai baca. Diam sejenak.
"Gimana menurut mas aziz?"
"Ya gak gimana-gimana. Memang maunya gimana?" Katanya sambil terkekeh.

Aaiiihhhh.. rasanya pengen nutup muka pake bantal.

Dan akhirnya suami berkata, "Makasih ya" katanya lagi. Hug n kiss.

Saya tanyakan padanya, mengapa tadi beberapa kali menyeritkan alis? Supaya lebih fokus bacanya katanya.
Apa karena kondisi Bandung yang sedang dingin atau karena hal lain, suami terlihat menyeka hidungnya. Sayang kamar gelap, jadi ekspresinya ga bisa terlihat jelas.

Hahaha.. mas, kita ga cocok roromantisan gitu? Hehe. Memang maunya chaca kaya gimana? Pasti ujungnya suami nanya gitu :D

Saya senang sekali bisa menuliskan surat cinta untuk suami dan masih diberikan kesempatan suami untuk membacanya. Sudah lama ingin menulis surat cinta, sejak setelah menikah. Mas Aziz harus tahu, jika saya bangga :)
.
.

Kareem Muhammad Athalla.
Semoga Allah anugerahi kemuliaan dan akhlak yang terpuji.
Nak, ketika engkau lahir kami mempajari 1 hal. Allah memperlihatkan kuasaNya pada kami. Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Kami sebagai orang tua yang diberi amanahmu, kadang masih kurang bersyukur..

Suatu ketika saat perjalanan ke rumah Nenek, Daddy mu pernah tanya sama Mommy. "Ingin Kareem jadi seperti apa?" Mommy bingung.
Pertama, menjadi apa itu arahnya kemana? Profesikah?
Yang kedua, Kareem masih 13 bulan, belum terlihat minat bakatnya ke arah mana.
Mommy utarakan hal ini pada Daddy.

Nak, kalau Kareem sudah besar Kareem ingin jadi apa?
Jadi apa saja boleh Nak.. asalkan Kareem selalu ingat sama Allah.

Semoga kami sebagi orang tua bisa terus mendukung Kareem sesuai minat bakatmu ya Nak..
Semoga hidupmu penuh berkah Nak.. dan juga bermanfaat untuk orang banyak.
Kareem soleh ya Nak dan kasih inspirasi untuk banyak orang.

Kareem harus tahu. Mommy selalu bangga sama Kareem..

Nak, mommy belajar untuk tidak membandingkan mulai dari Kareem lahir. Entah untuk apa pun itu. Berat badan, kemampuan, sikap, atau apa pun. Membandingkan kadang membuat kita kurang bersyukur sayang. Apa lagi jika membandingkan kelebihan orang lain dengan  kekurangan kita.
Terbesit perasaan membandingkan pernah Nak, apa lagi jika Kareem lebih unggul. Kembali Mommy ingatkan diri, setiap anak unik dengan caranya masing-masing. Setiap anak punya kelebihannya masing-masing :)

Boleh Mommy cerita sedikit?
Teman Kareem usia 13 bulan sudah bisa makan nasi. Kareem belum.
Kareem usia 13 bulan sudah bisa lari. Temannya belum.
Nah, lihat kan? Setiap anak punya kelebihan masing-masing sayang.

Saat dewasa nanti Kareem harus bangga dengan sendiri, yang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Diri Kareem sudah Allah ciptakan sangat sempurna. Fokus dan kembangkan kelebihan dan terima dengan ikhlas kekurangannya ya Nak.

Semoga kami bisa terus membersamai Kareem hingga Kareem dewasa.. aamiin
.
.

Saya, istinya Bapak Aziz, Ibu dari Kareem. Saya Nafsa Karima

Dunia anak-anak selalu menarik perhatian saya. Bianar mata mereka saat mereka tertarik pada sesuatu. Tawa riang mereka. Bahkan air mata mereka yang membuat hati perih. Hari-hari bersama anak-anak yang dilalui penuh dengan kejutan.
Saya ingin belajar lebih banyak tentang anak, tentang parenting, tentang pendidikan anak usia dini, tentang metode montessori, dan lainnya. Saya ingin bisa mengamalkan ilmu yang saya miliki, untuk saat ini untuk anak sendiri dan untuk sepupu juga teman dekat kami. Saya ingin banyak berbagi dan sedikitnya memberikan inspirasi. Ketika Kareem sudah lebih dewasa saya ingin banyak berbagi untuk orang tua dan anak-anak lainnya. Semoga hal ini menjadi salah satu amal jariyah untuk saya..
.
.

Lingkungan kami tinggal

Mengetahui peran spesifik keluarga.
Ko rasanya selalu bikin merinding ya. MasyaAllah, diingatkan dengan kata-kata di film 5 cm, agar hidup tidak cuma jadi seoongok daging yang bisa jalan, bisa bicara, dan punya nama. Agar hidup gak gitu gitu aja. Dan agar hidup bermakna serta punya arti. Huhuhu.. nangis nih.

Mengetahui peran spesifik kita diciptakan di muka bumi ini.
Rasanya makin merinding. Allah berfirman dalam surat cintanya, "Tidaklah kami ciptakan sesuatu di muka bumi ini dengan sia-sia".
MasyaAllah. Rasanya jadi tambah nangis. Allah, kadang saya tidak tahu untuk apa Allah ciptakan saya, untuk apa Allah ciptakan kami.. kenapa kami ada disini? Kenapa kami ada di keluarga ini? Kenapa keluarga kami ada di lingkungan ini?

Semua pasti ada hikmahnya, semua ada maksudnya. Hanya kitanya saja yang belum mengerti. Kita belum paham maksud Allah. Sungguh, tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang Allah ciptakan sia-sia.
Dan saat ini, saya sedang belajar menangkap maksud-Mu Ya Rabb ku Yang Maha Baik. Saya sedang mencoba mengambil hikmah atas setiap kejadian yang Engkau tetapkan pada kami Ya Allah Yang Maha Penyayang.

Kondisi keseharian keluarga dan lingkungan saya dan suami agak berbeda. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Di sini mungkin kami diminta mengambil yang baik dan merubah yang kurang baiknya. Dan menerapkan kebaikan untuk keluarga kecil kami dan lingkungan sekitar kami.

Melihat dari lingkungan sekitar kami, saya mengambil kesimpulan bahwa belajar bisa dari mana saja (tidak harus sekolah formal) tetapi sekolah yang tinggi (kuliah) itu bisa membuat pola pikir kita lebih terarah dan sistematis.

Dari segi emosi, marah yang bijak itu baik. Marah yang tidak dilakukan di depan banyak orang. Marah yang tidak dilakukan dengan menyakiti hati dan fisik. Marah, masih boleh dilakukan dengan tujuan untuk kebaikan dan dilakukan dengan cara yang baik pula. Semoga kita bisa selalu mengingatkan dalam kebaikan.

Membereskan rumah bukan hanya tentang pekerjaan perempuan atau takut memberatkan anak atau jika anak membantu malah jadi dua kali kerja. Sesungguhnya banyak hal yang bisa dipelajari saat membereskan rumah. Kemandirian, tanggung jawab, dan ketelitian. Mungkin saat ini kami bisa mengingatkan antar anggota keluarga dan melakukan pembagian tugas. Saat Kareem sudah lebih besar bisa diajak berkegiatan bersama sekaligus membereskan rumah.

Di keluarga kami ada yang gemar menonton sinetron india A*TV. Suami atau bapak sering mengganti channel TV saat kami ada disana. Jika hal itu terjadi, lain kali mungkin saya bisa meminta "Cari film anak-anak aja" meskipun sehari-hari di rumah kami tidak menyalakan TV. Dan kedepannya semoga bisa memberikan pengertian yang lebih baik, bahwa Kareem tidak menonton TV saat masa golden age ini.

Tantangan terbesar mungkin adalah bagaimana kami bisa konsisten dengan aturan keluarga saat Kareem bersama sepupunya atau saat Kareem keluar 'rumah'. Juga bagaimana cara kami untuk tidak mengenalkan Kareem dengan action figure (batman, superman, spiderman, ironman, ultraman.. dan man-temannya) dan tidak menonton DVD nya juga.

Allah mungkin menghadirkan keluarga kami di lingkungan ini untuk bisa memberikan pengertian dan pemahaman yang lebih baik.
Semoga keluarga kami bisa memberikan pengertian dan pemahaman yang baik tanpa kesan menggurui dan merasa lebih baik.
Aamiin

Salam,
Ibu Profesional

Nafsa Karima
NHW3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Kamis, 09 Februari 2017

#3 Peradaban dari Dalam Rumah

Bismillahirrahmanirrahim

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung 1
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Resume Materi Sesi #3
PERADABAN DARI DALAM RUMAH
Selasa, 7 Februari 2016

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah
Ketua Kelas : Derini Handayani
Koord. Mingguan : Nurita Azizah Rachman
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch#3 Sesi #3



πŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘¦πŸ‘¦MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAHπŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘§πŸ‘§

“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?


πŸ™‹ PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK


πŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘§πŸ‘§ NIKAH

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

πŸ€Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

πŸ€Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

πŸ€Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

πŸ€Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.


πŸ‘©πŸ‘§πŸ‘§ ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.


Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.

Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.


Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

https://www.youtube.com/watch?v=kwM9PDoRQRk&feature=youtu.be

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
*```RESUME TANYA-JAWAB SESIi#3```*

Pertanyaan 1.
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Saya yakin dengan awal pernyataan itu, tapi bukankah kita juga harus berusaha melihat peluang? Karena ada juga ibu yang terlalu fokus dengan urusan 'rumah' sehingga menggantungkan segala sesuatu kepada suami. Saya juga yakin ibu yg punya segudang aktifitas ataupun mampu berpenghasilan, bisa melihat peluang di depan matanya.
Bagaimana pandangan teh Ismi dalam hal ini?
Jawaban:
Setelah mengalirkan rasa dan berpikir jernih, saya baru bisa menemukan jawaban versi saya.
Jadi kembalikan semua kepada niat, apa tugas utama kita di dunia, lalu jika ada peluang, untuk apa niat kita melakukannya. Lalu saya ingat cerita ibu waktu beliau juga nyambi ambil peluang berjualan, ternyata fokus membersamai tumbuh kembang anak, dan subhanallah sekarang bunda septi sedang menuai apa yang beliau tanam.
Lalu apa ketika kita ada peluang kita tidak boleh mengambilnya? Kembalikan lagi pada prinsip diri, keyakinan, dan niat. Jika kita yakin dan kita yakin kita akan bahagia silahkan ambil peluang itu.
Kembali lagi pada slogan bunda produktif..
Rezeki itu pasti, kemulian yang dicari
Be a profesional, and rezeki will follow ✅

Pertanyaan 2.
Ini sebenernya pertanyaan saya dari dulu, buat apa saya lahir di keluarga ini. Bertemu banyak orang yang menjadikan kepribadian saya seperti ini. Dapat suami dengan kelebihan dan kekurangan seperti ini, diamanahi anak. Sayang nya masih belum nemu jawabannya karena bingung harus mulai dari mana.
Kira2 saya harus mulai dari mana ya untuk mencari jawabannya. Karena saya ngerasa disemua bidang biasa2, saya tidak merasa ada yang spesial didiri saya. Terimakasih.
Jawaban:
Bagus banget sudah tau kelebihan dan kekurangan pasangan. Itu sudah step mengenali pasangan kita.
Mengenali diri bisa dicoba dengan hal ini :
* Aktivitas apa yang kita suka
* Aktivitas apa yang tidak kita suka
Fokus pada hal yang kita suka teh. Misal, saya tidak suka setrika, sekuat apapun saya mencoba, saya ga suka. Apa harus dipaksakan? tidak, saya fokus sama hal yang saya suka. Saya tidak pernah menyetrika, kecuali kepepet. Tetapi hal yang saya suka saya lakukan terus menerus.
Dari situ bisa terlihat apa kekurangan dan kelebihan kita ✅

Pertanyaan 3.
Saya kn baru menikah 4 bulan dan tdk mlalui proses pacaran, dmna sgala sesuatunya masih saling mengenali dan menyesuaikan..utk menggali rahasia/hikmah perjodohan dg suami jg rasanya masih dangkal dan butuh waktu,
Nah, kira-kira bagaimana memulai membangun peradaban dari rumah dg kondisi saya seperti ini ya?
Jawaban:
Pertama teteh harus bersyukur karena menikah tanpa melalui proses pacaran πŸ‘πŸ»
Untuk membangun peradaban, kita perlu saling mengenal teh, kenali pasangan kita perlahan. Temukan kelebihannya dan koneksikan dengan kelebihan kita. Ketika mulai menemukan kekurangan dan "koq dia gini ya" luruskan niat lagi karena Allah dan berusaha menerima "ternyata pasanganku begini"
Fokus pada kelebihan dan menerima kekurangan itu sangat enak. Mangga dicoba.✅

Pertanyaan 4.
Bagaimana cara menjaga anak dari lingkungan yang kurang baik? Mengingat pengaruh lingkungan terhadap laku anak sangat besar. Karena ada masanya anak banyak berkegiatan diluar rumah dan orang tua tidak bisa memantaunya 24 jam. (Jadi baper πŸ˜” hehe)
Jawaban:
Saya dan suami selalu berpegang teguh pada kata kata seorang ustazah "kita tidak bisa membendung informasi negatif dari luar, tetapi kita bisa menutup informasi negatif itu dengan informasi positif"
Jadi jangan pernah lelah membersamai anak-anak kita di rumah, karena basic pendidikan bukan diluar, bukan di sekolah, tetapi dari rumah✅

Pertanyaan 5.
Mau bertanya,, tp kayanya harus cerita dulu..πŸ˜‚
Saya seorang tenaga kesehatan, bekerja di klinik yg dikelola bareng sama komunitas pembelajar juga.. karena saya satu2nya dokter disana, akhirnya diamanahi menjadi penanggung jawab. Sebagian besar waktu dan tenaga saya digunakan untuk mengupayakan klinik terus bertumbuh dan bermanfaat untuk masyarakat. Alhamdulillah suami sangat mendukung dan berada dalam satu komunitas yg sama. Kita sepakat bahwa ini adalah peran peradaban kami,, bukan hanya saya, karena realitanya, suami dan anak selalu saya boyong ke klinik (Alhamdulillah suami freelance dan fleksibel secara waktu). Proses mendidik anak pun tak terpisahkan dr kegiatan saya menjalankan amanah ini. Tp seringkali saya merasa 'lalai' dgn tanggung jawab saya sebagai seorang istri dan ibu. D satu sisi saya meyakini ini adalah peran peradaban kami, di sisi lain, suka terpuruk dgn perasaan 'peran peradaban ibu adalah rumah, anak, dan keluarganya'. Pertanyaannya,,
1. apakah peran peradaban seorang ibu memang terbatas dalam rumah, anak, dan keluarga?
2. Saya sudah merenungi materi 2,, Bu Septi mengatakan kalo pijakan utamanya adalah bunda sayang dan bunda cekatan,, baru bunda produktif. Bagaimana jika peluang menjadi bunda produktif datang di saat kita belum 'ajeg' menjadi seorang bunda sayang dan bunda cekatan yg profesional? Apakah harus menunda peluang tersebut? Atau bagaimana mensiasatinya?
Jawaban:
a. Menurut saya peradaban seorang wanita tidak terbatas pada itu. Tetapi ibu adalah madrasah pertama anak itu memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Sadarilah ketika kita mendidik anak, kita sedang membangun peradaban. Ketika pijakan sebagai ibu, istri, rumah dan keluarga kuat, insyaAllah seorang wanita mampu bermanfaat untuk masyarakat. Sudah banyak contoh realita hidup orang orang sukses berawal dari pendidikan rumah.
b. Karena sudah memilih di ranah publik. Maka saran saya teh rizki :
- niatkan karena ibadah
- dokter adalah pekerjaan mulia
- kuatkan pijakan bunda sayang & bunda cekatan
- ajak suami bersama memanfaatkan waktu membersamai anak
Kuatkan dan disiplinkan masalah manajemen waktu untuk bunda bunda yang memilih ranah publik, karena untuk anak bukan waktu sisa tetapi waktu optimal. ✅

Pertanyaan 6.
1.Dalam tahapan pra nikah, bisakah kita menerapkannya saat kita sudah menikah? Terlambatkah? Apakah nanti jika diterapkan akan ada efek yg berbeda karena beda masanya?
2. Bagaimana kita menemukan keunikan positif dalam diri oleh kita sendiri? Karena saya merasa saya sendiri tidak punya kelebihan atau potensi yang menonjol dalam suatu hal dibandingkan teman yang lain.
Jawaban:
a. Tahapan pra nikah, ada tahapan berdamai dengan masa lalu teh. Banyak orang yang missed masalah ini, termasuk saya. Jadi ada baiknya kita mengingat kembali hal hal positif saat masa lalu kita dalam keluarga, memafkan masa lalu, memang akan sangat sulit, tetapi harus kita coba. Bisa juga bersama dengan pasangan saling tukar pengalaman.
b. InsyaAllah ada teh, tapi teteh belum menemukannya. Coba cek jawaban no.3 ya. Bagaimana mengenali kelebihan dan kekurangan diri ✅

Pertanyaan 7.
1. Suami saya memiliki pengalaman yang kurang baik saat di didik oleh orang tuanya sejak kecil, (diperlihatkan banyak pertengkaran, dicurhati segala masalah oleh ibunya dan tidak pernah dicontohkan bagaimana menyelesaikan masalah) sampai saat ini suami masih berhubungan sangat baik dgn orang tuanya, namun saat muncul masalah dgn org tuanya seakan-akan "monster terpendam" pada diri suami saya keluar lagi. Saya sudah mencoba utk menyarankan setiap masalah coba diutarakan penyelesaiannya dgn org tua, tapi hal itu mustahil menurut suami saya. Yg saya akan tanyakan, apakah mungkin "monster yg terpendam" ini bisa jadi muncul dalam mendidik anak anaknya? Jika iya apa solusi yang dapat saya lakukan ?
2. Jika saya masih berpindah pindah rumah kontrakan, apakah berpengaruh terhadap cara mendidik anak dari sisi lingkungannya ?
Jawaban:
dear teteh sholehah,
a. Iya teh pasti pengaruh positif dan negatif pengasuhan kita secara tidak sadar akan mempengaruhi cara kita mengasuh anak. Tetapi kalau kita sudah mengenali "masa lalu" kita, maka ada baiknya kita keluarkan. Jika memungkinkan untuk berkomunikasi baik baik dengan orangtua kita lebih maksimal lagi, jika tidak bisa maka suami butuh "ruang" untuk mengeluarkan inner child. Solusi yang pasti jangan pernah lelah membersamai pasangan memaafkan masa lalunya teh.
b. Menurut saya tidak, rumah pindah pindah tidak masalah, asal kita harus mencari lingkungan yang baik, tetangga yang baik, ramah anak. Ingat kata ibu, it takes a village to raise a children ✅

Pertanyaan 8.
pertanyaan saya untuk materi 3
1. Bagaimana kiatnya agar suami tertarik dan mau berpartisipasi dalam pengasuhan anak?
2. Bagaimana menyamakan frame dan cara mendidik anak agar selaras karena tidak jarang berbeda cara pengasuhan terhadap anak?
Hatur nuhun teh
Jawaban:
a. Perbanyaklah waktu dengan suami untuk membicara tentang parenting, meminta pendapatnya ttg masalah2 anak, menshare materi via japri, lalu lihat tanggapannya. Awal saya gabung iip, suami saya ga begitu tertarik, tetapi lama-lama mengakui πŸ˜„ lalu kita ambil prinsip yang sesuai dengan keluarga kita.
b. Nah ini teh butuh proses panjang, butuh perjuangan, tetapi komunikasi intinya. Banyak banyak ngobrol tentang anak kita dgn suami, bukan ngobrol yang lain. 😬 ✅

Pertanyaan 9.
Cara menyelesaikan 'masalah' masa lalu saat kita dididik oleh orang tua kita itu seperti apa ya? Apakah dengan kita ikhlas memaafkan atau dengan dikomunikasikan saat ini?
Jawaban:
Saya juga belum pengalaman komunikasikan dengan orangtua masalah masa lalu pengasuhan. Soalnya saya pikir, saya tidak mampu berkata kata dengan baik dan lembut. Jadi saya pun masih jatuh bangun, pertama adalah keluarkan, keluarkan apa yang teteh rasakan. Ketika sudah keluarkan masa lalu negatif, ingat ingat lagi teh masa lalu positif yang akhirnya membuat kita bisa berdamai dan memaafkan. Dan ketika sudah tau salah pengasuhan, semoga bisa menjadi warning untuk kita dalam mendidik anak.
Kalau tidak salah, ini disebut Inner child ya, automatic pilot parenting. Bisa dicari referensinya di fb Mas Supri. Maaf belum paham banyak πŸ™πŸ» ✅

Pertanyaan 10.
Assalamualaikum teh, mau bertanya yaa..
Materi yg luar biasa menggugah membentuk peradaban dengan diawali membentuk karakter anak. Nah jika saya msh berada di posisi blm memiliki keturunan teh, kira2 kesempatan apa yang bs saya benahi untuk membuat peradaban??
Hatur nuhun teh..
Jawaban:
Mungkin ini hal hal yang perlu disiapkan, siapa tau ketika sungguh2 maka Allah berikan keturunan di waktu yang tepat.
* Perbanyak ilmu mendidik anak, catat, kemudian arsipkan
* Perbanyak ilmu ttg kehamilan, persalinan, masalah2 ibu baru
* Perbanyak komunikasi dengan suami, lihat tanggapannya, lalu lihat misi apa yang diharapkan suami terhadap anak dan ibunya kelak.
Misal dulu suami bilang sebelum nikah, saya ingin anak-anak saya dipegang oleh istri saya sendiri. Eh ternyata benar, mungkin jadi doa, setelah melahirkan saya resign πŸ˜„
* Perbanyak ingat pengasuhan masa lalu, coba komunikasikan dengan pasangan, keluarkan, coba berdamai dan memaafkan. dicicil teh biar lega✅

Pertanyaan 11.
Bagaimana cara terbaik untuk menemukan "misi spesifik"? Apakah dengan trial and error cukup efektif?
Jazakillah, Teh πŸ™‚
Jawaban:
Saya juga tidak yakin apakah trial error efektif. Tetapi kita bisa belajar dari kesalahan dan memperbaikinya. Misi spesifik akan terbentuk, jika masing2 kita (suami istri) memiliki visi misi ke depan yang sama. jangan sampai masih pakeukeuh keukeuh sama prinsipnya masing masing. Memperbaiki komunikasi dengan pasangan bisa jadi awal yang bagus untuk memulai, saya pun masih belajar teh πŸ˜€πŸ’ͺ🏻 ✅

Pertanyaan 12.
sy dl didik dengan cara yang kurang bisa sy terima oleh ortu sy,, sy masih merasa sakit sampai skrng.. ada kah tips untuk mengilangkan rasa sakit kembali memaafkan ortu saya, dan kembali menghormati dengan tulus?..
sy pernah coba mengubah mindset sy dengan mengatakan bahwa yang terjadi dgn sy itu takdir..Allah punya tujuan agar sy lbh baik (krn saat itu sy masih kecil, secara fisik, mental sy belum mampu untuk melindungi diri sy bahkan untuk meminta pertolongan orang lain).
setelah diberi mindset seperti itu msh tetap terasa pengalamn dl,, (masih blm memaafkan)..
Jawaban:
ini memang susah dan butuh proses panjang. Tetapi paling tidak kita sudah mencoba menerima, terima dulu pengasuhan masa lalu kita.
Oh saya dulu dibeginikan, oh begini begitu...
Coba keluarkan teh, entah bagaimana nyamannya teteh. Ngobrol dengan suamikah, atau menulis di catatan terus sobek sobek ya teh karena aib. Lalu buka kembali foto foto bahagia kita di masa lalu, tidak mungkin kan semua negatif, pasti ada rasa itu, rasa positif, rasa bahagia. Alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan, mungkin kita akan bisa mencicil memaafkan masa lalu kita. Jangan lupa berdoa untuk orangtua kita teh, karena kita ingin semua berkumpul di surga.
Dan coba deh alirkan kebahagiaan masa lalu kita dengan anak anak, ga kerasa kita bisa memaafkan karena lihat respon anak anak kita.
Saya pernah, mencoba cerita kenangan positif saya ttg jalan jalan naik pesawat waktu kecil, ga kerasa lihat respon anak positif, eh saya jadi ingat orangtua, lalu ingat pasti orangtua kita berjuang banget demi mengajak jalan. Alirkan rasa teh😘✅

Pertanyaan 13.
Saya merupakan anak dari keluarga broken home, memang saya tidak pernah ikut2 menjadi nakal seperti pada umumnya, Alhamdulillah mungkin berkat doa ibu yang selalu mendoakan anak-anaknya.
Belakangan saya Baru bisa memahami akibat perceraian orang tua saya, terbelit masalah ekonomi Dan komunikasi yang bermasalah. Ayah saya tidak bekerja, lebih menyukai memancing. Saat itu (akibat stress) ibu kerja menjahit. Komunikasi tidak berjalan mulus, hingga mereka memutuskan pisah rumah terlebih dahulu. Ibu ikut ke rumah nenek, Dan ayah ikut adiknya. Akhirnya komunikasi mereka semakin sulit, pihak ayah mengira mereka sudah bercerai, namun ibu hanya ingin mereka berdua mengoreksi diri masing2. Pada akhirnya ayah menikah lagi. Dan ibulah yang merasa tersakiti.
Saat ini kondisi keluarga saya agak mirip, dalam kondisi suami tidak bekerja Dan komunikasi kurang lancar. Saya sering baper mengingat-ingat Masa lalu orang tua saya, "teladan" seorang Istri tidak saya dapatkan Saat perceraian itu ketika saya Masih berusaha 8tahun belum mengerti apa2 soal masalah orang tua.
Saya memiliki keinginan untuk merubah sejarah agar tidak terulang kembali.
Apakah dalam diri belum memaafkan ayah?karena Tidak mendapatkan sosok ayah selama ini?(cukup rumit jika diceritakan bisa panjang lebar πŸ˜„ )
Teh Ismi, bagaimana agar kita bisa merasa bangga pada suami dalam kondisi seperti ini?
Jawaban:
wallahu alam teh. Mungkin iya teteh belum bisa memaafkan. Karena merasa sudah merasa tersakiti, jadi belum bisa berdamai dengan masa lalu. Lagi lagi alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan teh derin... karena hal positif bisa membendung hal negatif. Memaafkan masa lalu memang susah... tapi kita harus coba. Tengok kembali ibu yang sudah berjuang, jadikan masalah sebagai pembelajaran.
Mengenai suami, kadang kadang pria tidak suka dinasehati, karena jiwanya pemimpin. Mungkin kita bisa memperbaiki komunikasi tentang apa yang diinginkan suami. Lalu sampaikan secara baik tentang fitrah pencari rezeki. Mungkin ada sesuatu yang belum tersalurkan dari pasangan teh, sehingga belum bisa menemukan pekerjaan yang cocok.
Bismillah, harus tetap bangga teh, kalau tidak bangga, bagaimana suami bisa percaya diri. 😘
Sampaikan kenangan positif beliau yang kita suka, yang membuat kita bahagia.✅

Pertanyaan 14.
Terkait dengan keluarga sebagai pondasi peradaban dan saya yakini pola pendidikan anak yang tepat termasuk kedalam poin penting dalam membangun pondasi tersebut. Setelah memahami pola pendidikan yang tepat utk anak dan setelah paham kurikulum yg tepat untuk anak, saya terganjal dengan kurikulum sekarang yg padat materi dan jelas tidak cocok utk anak saya yg cenderung lebih paham materi praktek dan olah tubuh.yg menjadi pertanyaan..
1.Apa yg harus dilakukan ketika ternyata anak cenderung lebih fokus pada kegiatan klub sepakbolanya daripada pelajarannya karena memang dia tidak cocok dengan kurikulum yg padat materi.
2.haruskah saya mencari sekolah dengan kurikulum yg tepat sesuai dengan kondisi anak yg cenderung kinestetik? Ataukah cukup seperti sekarang ini dia tetap sekolah di sekolah pada umumnya,namun saya barengi dengan klub sepakbola sesuai dengan minatnya.mengingat dia(anak) yg kurang minat terhadap pelajaran.
Jawaban:
saya belum pengalaman anak usia sekolah teh. πŸ™πŸ» khawatir tidak memberi solusi, saya skip dulu ya dan mencari referensi bacaan. ✅ πŸ“

Pertanyaan 15.
Bagaimana menurut teteh tentang menangis sebagai cara meluapkan emosi? Jujur untuk periode tertentu saya membutuhkannya, kadang ga bisa ketahan, walaupun sdah berusaha untuk tidak menangis sambil bilang sama diri sndiri "udah jangan nangis, ga ada gunanya", tapi kalau belum terluapkan rasanya aktifitas dn komunikasi terganggu. Kadang menangis ini berawal dr rasa kecewa baik pada diri sndiri maupun.suami, atau krn merasa sendiri, kadang juga karena kelelahan ingin curhat tapi suami sibuk dan saya bingung harus mulai drmana,
Apa solusi menurut pengalaman teteh pribadi Untuk mengatasi perasaan 2 negatif tersebut?
Adakah alternatif lain yg lebih efektif dan solutif dalam mengalirkan emosi selain menangis?
Jawaban:
wow teteh mengingatkan saya tentang nhw saya. Bagi saya menangis adalah efektif ketimbang marah. Anak saya 5y suka ingetin "janganlah marah bunda, maka bagimu surga" adem ya dengarnya?
Bagi tipikal orang ekstrovet, atau terbuka, akan sangat mudah menyampaikan emosinya. Kata orang ceplas ceplos. Berarti saya nebak mungkin teteh tipikal orang tertutup, tidak mudah mengungkapkan. Jadi saya pribadi, pengalamannya gini :
1. Anak tantrum, marah, dll, terima.
2. Komunikasikan.
3. Masih lanjut.
4. Diamkan.
5. Masih lanjut.
6. Pergi.
7. Dikejar
8. Menangis.
Cobain, menurut saya efektif. lain halnya kalau saya marah, ga efektif teh, yang ada dosa nambah, anak niru, terus anak jadi muka takut.
Dua hal ini saya masih jatuh bangun juga teh, tapi dicoba aja.
Setelah keluar dengan menangis, silahkan tarik nafas buang nafas. lalu peluk anak, komunikasikan dengan anak.
Kecewa dengan diri sendiri, apa yang bisa teteh lakukan?
1. Terima
2. Catat apa kesalahan
3. Menyesali dengan menangis, keluarkan
4. Setelah tenang coba berwudhu, shalat.
5. Curhatlah kepada Allah.
Marah pada pasangan? Saya sendiri suka sering diam, terus inginnya dimengerti. Ternyata itu tidak efektif loh. Malah nambah masalah baru.
Jadi saya coba :
1. Coba bilang
2. Tidak bisa bilang, diam sejenak tinggalkan pasangan
3. Setelah itu teteh bisa catat
4. Silahkan menangis
5. Setelah tenang kasih ke suami
6. Mau menangis lagi silahkan
7. Dengarkan penjelasan suami
8. Terima
9. Maafkan
Jangan lupa peluk suami ☺
Dicoba ya teh✅

Pertanyaan 16.
MasyaAllah.luar biasa ilmu2 nya😍 #jleeebbgtttt 😒 makin semangat bebenah diriπŸ’ͺπŸ’ͺ Ada pertanyaan nih teh setelah mendalami utube nya..
1. Dulu sy suami tdk byk melihat masa lalu,khususnya ttg pola pendidikan ortu pd diri kami msg2 (ilmu nya kurang banyak nih sblm kd ortu hehe).Bgmn ya teh berdamai masa lalu dg kondisi kami yg "telat menyadari hal ini"?Prakteknya susah..jd secara tdk sengaja muncul lah ke anak..kl k ortu berusaha memaklum.krn byk nya jasa mrk..
2. Mendidik anak dg fitrah yg diberikan Allah. Dan bkn mendidiknya spt yg qt mau..
Fitrah2 apa saja ya yg perlu dijaga sampai dia dewasa nanti?krn lingkungan jaman skrg yg qt tau banyak sekali tantangannya..
jazakillah..
Jawaban:
Memang prakteknya susah berdamai dengan masa lalu. tetapi harus dicoba, hanya dengan menerima, memaafkan, dan menjadikan sebagai pembelajaran
b. bisa cari lebih lengkap di pendidikan berbasis fitrah oleh ust.harry.
- fitrah iman
- fitrah belajar
- fitrah cinta
- fitrah fisik
- fitrah bahasa
- fitrah perkembangan
- fitrah bakat
- fitrah individu & sosialitas✅

Pertanyaan 17.
Ketika saya dan suami sudh menemukan misi spesipik keluarga, bagai mana saya mengajak anak untuk bisa d ajak kerja sama sedangkan sya masih tinggal denga keluarga sya yg kebanyakan tidak sepaham dengan saya.
Jawaban:
Saya kebetulan tidak punya pengalaman. Tetapi saya ingat cerita Ibu, waktu beliau tinggal bersama keluarga. Jadi bikin space. Ini wilayah kekuasaan kita misal kamar, jadi prinsipnya apapun yang berlaku diluar, di kamar aturan kita yang berlaku. Semoga saya ga salah memahami cerita ibu 😬
Sama sih intinya, yang penting kuatkan pondasi keluarga kita. saya pun tidak tinggal serumah, tetapi kalau dibawa ke rumah keluarga prinsipnya bertabrakan semua, tetapi anak anak tidak serta merta ngikutin, kepengaruh mah iya, namanya anak-anak, tapi kita tak boleh pernah lelah. tetapi anak anak itu kritis hanya ingin tau kenapa loh.
Saya kasih contoh simple ya semoga bermanfaat.
Di keluarga kami, jarang beli mainan, harus nabung dulu, atau bikin aja mainan. Lalu dia terkaget2 dengan sepupunya yang tiap minggu dibelikan mainan. Dia cuma tanya kenapa, tapi karena kita terus2an kasih informasi positif, alhamdulillah tidak terpengaruh, merajuk... kritis sering, tetapi alhamdulillah sampai saat ini aman aman saja πŸ˜„

Referensi jawaban Ibu untuk bunda produktif :
Bunda, saya dulu juga mendapatkan pesan yg sama ketika masih gadis
Ibu saya single parent sejak saya usia 8 th.
Sehingga ibu selalu berpesan "harus jadi perempuan mandiri, berpenghasilan, tidak bergantung pada suami"
Mindset terbangun, tetapi di satu sisi saya selalu terngiang-ngiang masa kecil saya, sedih banget ketika pulang sekolah, ingin banget curhat dg ibu, tapi harus nunggu malam, karena ibu baru pulang kerja dan kuliah malam hari.
Akhirnya hal itulah yg memicu saya bahwa saya harus mandiri finansial tanpa harus meninggalkan anak-anak saya.
Maka sebisa mungkin sebelum anak-anak memasuki usia 12 th. Ajaklah selalu bersama ibu atau ayahnya. Libatkan mereka, sehingga kebutuhan kasih sayang terhadap kehadiran diri kita terpenuhi.
Apalagi kalau kita buka usaha sendiri, pasti kita bisa mengaturnya.
Kalau harus bekerja dengan org lain, maka didiklah asisten rumah tangga yg bisa mendampingi anak dengan baik, dengan segala konsekuensi yg akan bunda terima.

Referensi jawaban ibu pertanyaan dengan berdamai masa lalu :
datanglah ke orangtua anda apabila masih ada, peluk beliau berdua, sebagai visualisasi bahwa kita benar-benar sdh menerima segala kondisi masa lalu.
Seringlah berbuat baik untuk mereka, untuk mengganti rasa sakit/dendam masa lalu yg pernah ada.
Kemudian hindari masa-masa dimana kita dalam posisi marah yg memuncak ke anak.
Karena kalau kita belum selesai dg masa lalu, dalam kondisi tertekan, pasti kita akan melakukan perbuatan yg pernah dilakukan orangtua kita ke kita jaman kecil dulu, meskipun diri kita sendiri sangat tidak menyukainya.
Maka ujilah, kalau dalam kondisi tertekan kita bisa mengendalikan diri kita, insya Allah masa lalu sudah bisa kita terima dengan baik.

Referensi jawaban ibu ttg yang masih tinggal bersama mertua/orangtua :
kunci utama ketika kita masih jadi satu dengan orangtua adalah komunikasi
Libatkan orangtua/mertua menjadi satu team dg kita, berikan mereka peran khusus yg bisa dikerjakan.
Kemudian bicarakan dengan suami, bahwa ring 1 yg harus kita bangun adalah keluarga inti plus ortu kita.
Makin kreatif dg solusi, mbak akan makin menemukan peran peradaban mbak di muka bumi ini.

Bandung, 9 Februari 2017

Dari group WA MIP batch #3 Bandung 1
Nafsa Karima


Demi kenyamanan, mohon izin untuk nama penanya tidak saya cantumkan :)

Minggu, 05 Februari 2017

NHW2 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Bismillahirrahmanirrahim

Tugas minggu ini adalah...

“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
- SPECIFIK (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Yes. Membuat checklist indikator. Tidak pernah kepikiran sebelummya bikin chekcklist. Bismillah, supaya keseharian gak gitu gini aja dan supaya keseharian lebih terarah. Apa yang harus dikerjakan, apa yang jadi prioritas, dan mengapa masih ada yang belum dilakukan..
Ayo semangaattt!!

Copy paste tugas NHW#2 ke whats app daddy. "Mas, cha ada tugas", tolong dibantu ya Mas.. :)
Jawaban suami adalah..  eng ing eng... 4 poin yang menjadi sorotan suami.
1. Sholat tepat waktu dan rutin tilawah Quran
2. Suka Berolahraga
3. Hidup Sederhana
4. Menuntut ilmu

Menurut saya keempatnya masuk dalam profesionalisme perempuan sebagai individu. Memang akan berdampak pula pada suami, karena suami bertanggung jawab atas saya.

Mas, mungkin saya akan berkali-kali bilang bahwa saya senang sekali ikut kelas matrikulasi ini :)
Yuk kita mulai checklistnya..

1. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Individu

Hal utama yang masuk checklist adalah ibadah. Bismillah, memperbaiki hubungan dengan Allah. Beberapa kali sering terbesit dalam pikiran saya, mulai besok saya mau rutin shalat dhuha lagi. Besoknya? Saya lupa atau dibesok-besokin lagi. Atau ibadah lainnya yang saya besok-besokin lagi dan jadi malah tak terlaksana.
Semoga Allah mudahkan jalan kita agar menjadi pribadi yang lebih baik ya..
Selain ibadah, menuntut ilmu juga masuk ke checklist ini. Saya masukan membaca artikel bermanfaat, kenapa? Supaya kalau buka FB gak asal buka aja atau asal share tulisan aja :)



2. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Istri

Alhamdulillah, jalan 2 tahun pernikahan kami. Dan selama ini kami LDM (long distance marriage). Suami kerja di Jakarta, saya dan Kareem di Bandung. Masih tinggal di rumah orang tua saya, Eyang Kareem. Mungkin banyak hal yang belum bisa kami lakukan bersama dan masih ada kewajiban saya sebagai istri yang tidak dapat saya lakukan setiap hari. Semoga, waktu-waktu yang kita lalui bersama berkah dan berkualitas ya mas..



3. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Ibu

Alhamdulillah, amanah kami seorang putra. Kareem (13 bulan). Kareem mulai pinter dan sudah bisa protes. Yang ingin saya lakukan untuk Kareem tapi belum jadi-jadi adalah membuat agenda kegiatan Kareem. Memang masih 13 bulan. Tapi biar saya terbiasa dan sekalian latihan membuat agenda kegiatan, jika nanti kami home schooling. Agenda kegiatan disini adalah bermain ya.. hehe karena belajarnya anak lewat bermain. Dengan agenda ini sebetulnya akan banyak manfaatnya, kita tahu aspek apa saja sesuai usia anak yang harus distimulasi dan agar bermain di rumah gak main itu ini aja.
Bijak menggunakan HP masih menjadi PR saya selama di dekat Kareem.


Semoga saya bisa istiqamah..

Salam Ibu Profesional
Bandung, 5 Februari 2017

Nafsa Karima

Jumat, 03 Februari 2017

#2 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

Bismillahirrahmanirrahim

KELAS MATRIKULASI BATCH 3

INSTITUT IBU PROFESIONAL – _Bandung 1_*

 

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

 

*```Resume Materi Sesi #2```*

 

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Selasa, 31 Januari 2017

 

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah

Ketua Kelas : Derini Handayani

Koord. Mingguan : Ziyana Nur Hida

 

_Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional_

 

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #3? Pekan ini kita akan belajar bersama 
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; 
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : 

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.


BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka. 

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015
https://youtu.be/hmLVcXK658Y

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

 

*```Resume Tanya Jawab Sesi #2```*

 

Pertanyaan 1.  Teh Gina Mardiati

Bagaimana memaksimalkan peran kita menjadi ibu profesional? 
sedangkan saya masih bekerja di ranah publik (rumah sakit dng pola kerja 3 shift) Saya memang sudah memiliki niat untuk resign. Tapi, terlalu banyak kekhawatiran saya. Misal, finansial, psikis saya setelah resign, memberi pengertian kepada keluarga, dll..

Jawaban :

 Di ibu profesional semua ibu adalah bekerja. ada yang bekerja di ranah publik dan domestik. jika teteh akan memutuskan resign, dan memilih bekerja di ranah domestik, maka yakinlah kunci rezeki itu baik satu maupun dua pintu hasilnya tetap sama. dan mulai petakan tantangan apa saja yg akan dihadapi beserta langkah menghadapinya. jika niat kita kuat dan yakin, insyaAllah jalannya akan terbuka ✅
jawaban tambahan:
karena sejatinya semua ibu adalah bekerja. ibu bekerja ranah publik harus punya energi double garda, jangan sampai dirumah mendapat sisa2. maka anggaplah sedang bermain peran, ketika pulanh ke rumah, ini stage baru, segera mandi menyegarkan diri dan bersiap bermain bersama anak, mendengarkan ceritanya, dst ✅


Pertanyaan 2.  Prita Annisa Utami

Masa emas anak adalah 0-3 tahun. Dimana kita harus mengerahkan 'segalanya' untuk anak, full untuk anak. Juga berkaitan dengan empat hal yg dimiliki anak, kalau ada yang menurun kualitasnya, maka letak kesalahannya ada pada ibunya, yang tentu saja membersamainya.

Lalu bagaimana kalau kita merasa kurang full, sedangkan anak sudah lewat usia 3 tahun misalnya. Adakah cara untuk memperbaiki masa emasnya?

Jawaban :

 Pertama, jangan menyalahkan diri sendiri. kaca spion untuk dilihat sesekali bukan selalu dipandangi. tentu bisa teteh insyaAllah, karena sejatinya golden age itu adalah seumur hidup kita. buktinya teteh ada di matrikulasi ini  hak kita adalah berubah dan hak Allah adalah mengubah. tidak ada kata terlambat jika kita memulainya dengan langkah pertama ✅


Pertanyaan 3.  Teh Andam 

Indikator keberhasilan Ibu Professional adalah menjadi kebanggaan keluarga. Jika berkenaan dengan tahapan bunda sayang, bagaimana agar kita mampu membuat komunikasi yang produktif terhadap anak anak sehingga dalam interaksi ibu dan anak setiap harinya dapat berjalan harmonis sesuai apa yang menjadi tujuan?

Jawaban :

Lebih lengkapnya nanti ada di materi bunda sayang komunikasi produktif setelah matrikulasi. ada tantangan 10harinya juga lho.. kuncinya: harus satu level dengan anak.
for Teh things to change i must change first. dan i'm responsible for my communication result ✅


Pertanyaan 4.  Teh Nopi Rahmawati

Setelah membaca materi 2 ini, dan sy reviewe ttg NHW1 sy, kok sepertinya sy langsung loncat ke tahapan 3 (bunda produktif). Apakah mungkin tahapannya bisa diloncati? Atau sy harus fokus ke tahapan bunda sayang dl? Dan apakah berarti sy harus merubah NHW1 sy, sehingga berkaitan dg tahapan bunda sayang?Mohon pencerahannya ya tth, masih bingung krn tugas NHWnya pasti saling berkaitan.

Jawaban :

Pijakan awal di ibu profesional memang menguatkan bunda sayang, ilmu dasar mendidik anak, agar nanti saat waktunya kita produktif, anak tdk keteteran.. apakah harus mengubah nhw 1? simak terus materi dan nhw selanjutnya yaa..

prinsipnya apapun yang menjadi ranah suka-bisa / passion kita, tetap libatkan anak didalamnya.✅


Pertanyaan 5. Dea Fadhila

1. Tahapan menjadi ibu profesional itu bunda sayang, bunda cekatan, bunda profesional kemudian bunda solehah.. Teh wiwik yang mau saya tanyakan tahapan tersebut haruskah berurutan untuk mendapatkan hasil maksimal di universitas kehidupan ini? 
2. Apabila keadaan dirumah baru diamanahi suami yang harus di urus, bolehkah loncat ke bunda cekatan lalu bunda produktif teh? 

Jawaban :

Dear teh Dea, tahapan ini adalah proses perjalanan ibu septi. ibu sudah membuktikan, bahwa bersungguh-sungguh mendidik anak, cekatan didalam rumah maka rezeki itu / produktif menghampiri, selanjutnya ibu berbagi ilmu tersebut sehingga mjd bunda shaleha (bermanfaat). saya sendiri masih jatuh bangun mengaplikasikan bun-bun itu, tapi yang saya rasakan tahapan itu memang sejalan, sekarang saya bisa produktif hanya karena ingin memenuhi kebutuhan anak-anak saya dengan lahirnya @temanmain.bdg dan playdate@homesweethome.

bagi yang belum memiliki anak, memang bisa loncat ke bunda cekatan dst.✅


Pertanyaan 6. Teh Witri Khotimah

1. Bagi sebagian masyarakat umum, ibu yang dipandang hebat adalah ibu yg bisa mengurus rumah tangga dan sukses dalam karirnya. Lalu bagaimana kita menyikapi pemikiran2 tersebut dimana terkadang menjadi irt dipandang sebelah mata dan kurang dihargai?

2. Dalam menjadi ibu profesional, haruskah kita melewati 4 tahap tsb secara berurutan? Bagaimana jika tidak dilakukan secara berurutan, apakah bisa? adakah pengaruhnya?

Jawaban :

Dear teh witri, utk no.1 afirmasikan: cancel cancel go away.. fokus menjadi ibu kebanggaan keluarga..berikan penghargaan kepada diri sendiri. karena kita tdk perlu penghargaan dan pandangan orang lain, cukup anak dan suami yang menjadi indikator kesuksesan kita ✅
no.2 lihat jwban sebelumnya.


Pertanyaan 7.  Teh Nafsa Karima

1. Ada 4 tahapan menjadi ibu profesional (bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, bunda soleha) disebutkan bahwa disetiap tahap ada ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu. Nah apakah ilmu-ilmu dalam setiap tahapan tersebut akan kami pelajari di kelas matrikulasi ini?

2. Setelah lulus dari kelas matrikulasi ini (aamiin) apakah kami akan naik tingkat menjadi bunda sayang? Dan adakah program seperti kulwap ini di bunda sayang? Seperti itu hingga akhirnya sampai di bunda soleha?

Jawaban :

Dear teh nafsa, betul sekali setelah lulus matrikulasi kita akan belajar di kelas bunda sayang. 12 materi mendidik anak akan dipelajari selama 12 bulan. kemudian lanjut bunda cekatan ada 12 materi manajemen rumah dalam 12 bulan juga, dst. sehingga total lama belajar di iip ini adalah 4 tahun sampai ke bunda shaleha.

dan tiap bulan akan ada tantangan 10hari. bagi yang sudah lulus matrikulasi insyaAllah lebih ringan, karena sudah terujj komitmen dan konsistensinya. 

r u ready? ✅
Pertanyaan 8.  Teh Nurita

Saat ini, saya ibu rumah tangga dengan 2 putra berusia 4 dan 5,5 thn. Dalam rencana jangka panjang saya (10 tahun kedepan), saya ingin produktif di satu bidang yg saat ini sedang saya minati. 
Awalnya, saya ingin meluangkan waktu untuk mencicil belajar/ memperkaya referensi bidang tsb. Tapi, setelah mempelajari materi #2, ternyata saat ini anak saya masih berada dalam tahapan usia yg memerlukan perhatian saya secara penuh.
Apakah artinya saya 'cut' dulu mempelajari bidang tersebut, atau lanjut saja selama itu tdk mengganggu dalam memberi perhatian pada anak?

Jawaban :

 Dear teh nurita, prinsipnya adalah manajemen waktu dan sebisa mungkin libatkan anak dalam prosesnya jika memungkinkan.

ada cerita menarik tth seorang ibu yang passionnya adalah mencuci dan menyetrika tapi tdk passion mendidik anak. beliau tetap melibatkan anak-anak selama proses tsb. hasilnya ibu ini menjadi juragan laundry, dan anak-anaknya tau betul bagaimana industri bisnis laundry dari hulu ke hilirnya ✅


Pertanyaan 9.  Teh Vita Puspita Sari

1.Saya bekerja 8jam perhari saya masih kurang pd bisa jd ibu prof sembari bekerja.. apakah menjadi ibu prof wajib untuk stay @home??
2.Menurut video td katanya pembentukan karakter sampai dgn 12 thn.. gimana dgn jika seorang anak usia 20 thn menjadi anak yg agak nyeleneh dy sering berbohong.. tp kan udh terbentuk karakternya.. apa masih bisa diperbaiki oleh orang tua nya??

Jawaban :

Dear teh vita, di ibu profesional sejatinya semua ibu bekerja, ada yang di ranah publik maupun domestik. tentu semua bisa menjadi ibu profesional ~ yang bersungguh-sungguh mendidik diri, anak dan keluarganya.

2. anak yang sudah aqil baligh, berarti memiliki kewajiban syariat yang sama dgn kita, maka statusnya adalah rekan. jika ada kesalahan yang pernah kita perbuat, minta maaflah, dan bicara dari hati ke hati, karena mereka bukan anak-anak lg.✅

Pertanyaan 10.Teh Rani Anggraeni

Pertama disebutkan d utube td ttg dunia anak itu bermain. Bermain dg gembira.Terkadang,dikegiatan bermain sy&anak terasa hambar..sy merasa tdk seluwes guru paud yg pandai mengondisikan anak..misal humoris dll.Sy cb evaluasi diri,bs jd krn perasaan/pikiran diri sy yg tdk bebas.msal krn ad pekerjaan lain yg "mengganggu" atau misal merasa ada perasaan semacam inner child,masa lalu dg keluarga yg sy ingat sy jarang diajak bermain bersama sprt sy ke anak sekarang(maklum sy anak pertama dg ortu pekerja yg pny banyak adik hehe&sy jg tau dulu ilmu parenting tdk sederas jaman skr).bagaimana mengatasi perasaan2 tsb?jazakillah.. :)

Jawaban :

Dear teh rani, kita pernah menjadi anak-anak, dan anak-anak memang suka bermain. kalau saya, saya hadirkan si playfull inner child, dgn mengatakan wi yuk main, ada teman..dan saat bermain itulah kita satu level dengan anak. saat itulah bonding dan moTehr trust terbntuk. teh rani sudah luar biasa, dgn pengalaman yg tdk enak, tapi tetap memberikan yg terbaik utk anak ✅


Pertanyaan 11.  Teh Yola Widya

Bismillah terkait dengan ibu sebagai agen of change, bagaimana caranya menyamakan persepsi dengan pasangan agar tercapai keselarasan yg diinginkan dalam membawa perubahan dalam keluarga. Sehingga jangan sampai timbul prasangka pada pasangan terkesan kita (istri) ingin menggurui beliau. Juga agar anak mau bekerjasama dengan orangtuanya dalam menjalani visi dan misi agent of change tersebut. Seperti yg diketahui anak sekarang selalu merasa aku lebih tahu aku lebih pintar dari orang tuaku

Jawaban :

 Dear teh yola, komunikasi dengan pasangan lengkapnya ada di bunsay. kalo saya pribadi, ke suami itu harus acceptance/ikhlas dulu baru bisa berkomunikasi. kalau belum accept beliau, biasanya salah satu akan ngotot.

nah,setelah acceptance untuk memulainya, gunakan Teh power of question supaya beliau ga merasa digurui.

Pertanyaan 12. Teh Dian

1. Disebutkan di video ibu Septi bahwa bahwa golden age anak 0-3 tahun, materi apa yang sebaiknya sdh kita tanamkan agar mendapat ke 4 poin meningkat?

2. Dalam fitrahnya anak itu pembelajar.. bagaimana agar anak itu sampai besar senang belajar? Seperti yg diketahuj ketika masih balita, anak2 memang cenderung ingin tahu, tapi ketika mulai masuk sekolah anak cenderung malas belajar.. 

3. Kemandirian anak sebaiknya dididik dari usia brp ya teh? Apakah sleep training sbg salah satu kemandirian itu perlu untuk usia 3 bln? Rumornya kalau anak nangis dicuekin akan menjadikan dia cuek jg.. saya masih maju mundur mau sleep training..

Jawaban :

 Dear teh Dian, 
1. usia golden age disini dalam artian perkembangan otak anak sedang dalam masa pesatnya. semua stimulasi motorik kasar, halus, bahasa, kemandirian, sosial yg diberikan inti nya adalah untuk menguatkan bonding dengan ortu. 

di keluarga ibu septi usia 0-7th adalah waktu menanamkan iman-adab-akhlak-bicara.

penanaman iman dengan berkisah, sedangkan adab-akhlak dan bicara hanya bisa DiTULARKAN

2. jika saat besar anak jadi malas belajar,mungkin ada fitrah yang terluka. seperti terlalu banyak dilarang, dilarang mencoba, dilarang bertanya, dll. atau ada tercerabut hak bermainnya atas nama "belajar" diminta les calistung sebelum 7th? atau gaya belajarnya yg tidak sesuai? atau dia hnya menyukai beberapa ilmu saja utk diplajari?

3. kemandirian bisa diajarkan sedini mungkin. dengan catt: si anak siap, ortunya juga siap dan sesuai dengan perkembangan usianya.

untuk sleep training, saya pernah mencoba pada anak kedua sejak dia new born. dan saya pribadi tdk merekomendasikan, karena komunikasi bayi adl menangis, dia perlu respon kita, dia membutuhkan kita sbg satu-satunya tempat mencari pertolongan. khawatir jika dibiarkan malah akan trauma, wallahualam ✅

Pertanyaan 13. Teh Ani Siti

Dalam pola asuh mendidik anak, sering kali terbawa apa yang telah dilakukan orang tua sewaktu kecil terhadap diri sendiri dan secara tidak langsung dilakukan pula pada anak.. padahal tau jika hal tersebut kurang baik, nah bagaimana cara mengontrol hal tersebut?
Makasi teh 

Jawaban :

Dear teh ani, dalam psikologi ini disebut autopilot parenting. good poinnya adalah sudah menyadari bahwa kita bertindak seperti orangtua kita. mengatasinya yaitu dengan: memaafkan kesalahan pengasuhan ortu, menerima ikhlas bahwa kita pernah mendapat perlakuan seperti itu. dan saat dipengaruhi kondisi autopilot, ambil jeda untuk menenangkan diri. karena tugas kita selain belajar ilmu pengasuhan juga memutus rantai pola pengasuhan dahulu yg tidak baik, supaya tdk diwariskan kembali ke anak-anak kita✅

Pertanyaan 14. Teh Nenih

1. Setelah tau bahwa saya blm menjadi ibu profesional hal apa yg paling penting saya perbaiki dulu terutama dalam pengasuhan anak?

2. Dalam banyak hal kadang ibu tidak mampu untuk meng ajar langsung pada anak, apakah saya sebagai ibu harus memampukan saya terlebih dahulu atau boleh d lempar pada pihak le 3, contoh anak pertama sya laki2 umur 4,5 tahun blm mau belajar ngaji, dan bijak kah saya menyuruh pihak ke 3 untuk mengajar mengaji?

3. Apa yg harus saya lakukan ketika saya berbuat salah dan anak menirunya, apakah cukup dengan merubah sikap saya atau perlu saya komunikasikan juga dengan anak?

Jawaban :

 Dear teh nenih
1. mengacu pada pijakan bunda sayang, komunikasi adalah yang pertama kita perbaiki. karena basic kita dalam berhubungan baik ke anak, pasangan orang lain adalah komunikasi

2. home based education bukan berarti semua diambil alih sendiri, bisa didelegasikan apabila kita tidak mampu dan tidak mmpunyai ilmu tersebut. dalam pembelajaran sebaiknya jangan ada pemaksaan, karena hanya menghasilkan penolakan. oya umur 4.5th kenapa sudah harus belajar mengaji?

3. ya, ajak anak berkomunikasi, meminta maaf jika kita punya salah, jelaskan bagaimana seharusnya perbuatan yang benar, lalu saling bersepakat untuk mengubah dan mengingatkan ✅


Pertanyaan 15.  Teh Windy

1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan setiap ibu untuk dapat menyelesaikan setiap tahapan ? Faktor apakah yg mempengaruhi cepat lambatnya menyelesaikan setiap tahapan?

2. Apakah mungkin bisa saja terhenti ditengah tengah tahapan dan tidak bisa melanjutkan hingga akhir?jika iya bagaimana utk menghindari hal tersebut?

Jawaban :

Tentang tahapan belajar iip sdh ada dijwbn sebelumnya.
faktor yang memperlambat: mengizinkan mr.ah hinggap ~ ah nanti aja, ah susah ah...dst

mempercepat: 
-bertemu langsung dengan para ahli atau orang yang sudah berpengalaman

-praktek

-sharing apa yg sudah dipraktekan

2. kuatkan niat dan tetaplah bersama orang-orang yang se-value untuk mnjaga semangat belajar. jika putus ditengah jalan insyaAllah bisa disambung ✅


Pertanyaan 16. Teh Siti Nurjannah

1. Dalam tahapan menjadi ibu profesional point c (bunda produktif) apa yang di maksud dngn produktif disini khususnya kalimat "produktif dngn bahagia tanpa harus meninggalkan anak&klg ini berkaitan dengan sesuatu yang dapat menghasilkan uang (selalu harus materi) ?

2. Indikator keberhasilan ibu profesional point bunda produktif khususnya point a
Bagaimana cara menemukan minat & bakat kita sesungguhnya?

Jawaban :

Dear teh siti
1. produktif di ibu profesional tidak selalu berkaitan dengan materi. karena rezeki itu pasti, kemuliaan yg harus dicari✅

2. nanti di materi dan nhw selanjutnya ada bahasan tentang ini stay tune yaa ✅


Pertanyaan 17.  Teh Lisna Sari

Sering disebutkan meningkatkan "kualitas ibu". Bagaimana tolak ukur menjadi seorang ibu yang berkualitas untuk keluarga ? Dan apa saja faktor pendukung agar seorang ibu tersebut menjadi berkualitas ?

Jawaban :

Dear teh Lisna, tolak ukur keberhasilan ibu: tanya customer anda: anak dan suami.

faktor pendukung: upgrade ilmu dan jadilah ibu yang bahagia karena kebahagiaan itu menular ✅


Pertanyaan 18. Bu Elly

Bagaimana kiat menjadi ibu yang menjadi kebanggan keluarga? Karena saya banyak di rumah dan mungkin kurang kreatif dan rasanya bosan, padahal saya suka koleksi buku-buku edukatif dan menemani mereka baca dan belajar. Kebanyak ibu2 ingin resign saya malah pengen kerja karena merasa kurang aktualisasi..

Jawaban :

Dear teteh, tidak ada yang bertentangan dengan aktualisasi diri dan mengasah bakat dengan mendidik anak, seperti cerita yg saya kisahkan di jwbn di atas ✅


Pertanyaan 19. Teh Rosa

Iya Teh mau Tanya kan untuk praktek, apakah ada hal yg bias saya lakukan saat ini mengingat saya belum menikah, tapi sudah mendapatkan teori?

Jawaban :

Di nhw selanjutnya akan ada nhw untuk single.. stay tune..keren kan blm menikah ilmunya udah mumpuni praktknya lbh mudah dibanding saya yg telat belajar


Pertanyaan 20. Teh Hajah

BAngga menjadi ibu-ibu (khususnya yg bekerja ranah domestic) itu, realnya seperti apa? Sejujurnya pernah juga merasa seperti pertanyaan no.18. dan bagaimana cara untuk bias sampai tahap itu?

Jawaban :

Dear teh hajah, bangga menjadi ibu domestik itu realnya adalah sudah tidak mendengarkan suara dan nyanyian sumbang atau merasa ada tatapan yg sbelah mata saja. karena indikator sukses kita bukan dari mereka.✅

Prosesnya pasti perlu waktu.. dimulai dengan mngubah mindset dan penerimaan diri bhwa saya ibu bkerja domestik dan saya bngga..kalau kita sendiri aja ga merasa bangga, ada suara sumbang sedikt,akan mudah goyah.

 


Pertanyaan 21.  Teh Fathiah

Mau Tanya, maaf kalo OOT NHW #1 boleh direvisikah? Kalau boleh direvisi cukup disimpan sendiri atau dilaporkan lagi?

Jawaban :

Silakn direvisi pribadi teh..

Pertanyaan 22.  The Farah Luthfia

Jika seorang ibu bekerja lebih karena merasa bertanggung jawab kepada kepentingan public, suami sih oke Cuma anak-anak usia 2th dan 4 th lbh ingin ibunya ‘dasteran’ aja dirumah lbh homie kata mereka? Bagaimana menjembatani hal seperti itu?

Meski bonding kita kuat, secara kemana-mana nempel terus kecuali tempat saya bekerja. Karena area kerja saya di rumah sakit jd seminimal mungkin dibawa ke tempat kerja.

Jawaban :

Dear the farah, memahamkan ke anak yang usianya dibawah 7 tahun dimana secara otak mereka belum bersambungan adalah dengan pengulangan.

Ceritakan betapa mulianya tugas tenaga medis, membantu orang lain dan banyak dibutuhkan orang ceritakan dengan buku bagaimana ibu bekerja disana. Sesekali ceritakan kisah di kantor pengalaman menarik saat bertemu pasien dll.. in syaa allah lama-lama mereka paham.
   
 

 

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Salam Ibu Profesional,

Nafsa Karima
MIP batch #3, Bandung 1
 

Rabu, 01 Februari 2017

#1 Adab Menuntut Ilmu

Bismillahirrahmanirrahim

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung 1

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Resume Materi Sesi #1

ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2017

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah
Ketua Kelas : Derini Handayani
Koord. Mingguan : Afina Raditya

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Pembukaan Matrikulasi Institut Ibu Profesional https://www.youtube.com/watch?v=bgqJdS6s_fY                      
Silahkan dibaca diresapi beri waktu diri kita mencerna πŸ˜‰

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Resume Tanya Jawab Sesi #1

*Pertanyaan 1.* Teh Dian
Yg sya mau tanyakan, skrg banyak sekali info2 yg tersebar di online.. gmn ya caranya kita menyaringnya? Terkadang info itu bersifat wajar, masuk akal.. tp kita blm tau kebenarannya.. bgmn sikap kita terhadap info tsb?

*Jawab:*
Kalau saya prinsipnya, jangan percaya langsung sama broadcast. Jangan diterima langsung. Karena broadcast message itu tidak jelas sumbernya. lalu kalau info online dari web, lihat sumbernya apakah bisa dipercaya. Jangan terima mentah berita hanya dari satu sumber, kroscek dengan berita dari sumber lain

*Pertanyaan 2.* Teh Dian
Selain itu, apakah kita blh menyebarkan materi kuliah Ibu Profesional ke teman sesama ibu baru dgn sumbernya kami tuliskan dari Komunitas Ibu Profesional?  Apakah ada peraturannya? Krn nanti materinya akan tersebar..

*Jawab:*
_Berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_
Program matrikulasi ini program berkelanjutan dg sistem pendampingan. Materi matrikulasi boleh di tulis secara runtut di blog/web pribadi kita masing-masing kemudian di share ke publik. Yang tidak boleh adalah langsung share materi ke salah satu/beberapa grup WA tanpa pendampingan fasilitator.

*Karena ini program berkelanjutan, tidak boleh diterima sepotong-potong dengan sistem broadcasting ke sosmed messager (seperti WA, line, telegram dll)*. Kalau di wall fb, blog, web masih bisa ditelusuri satu persatu. Karena program matrik ini kita lakukan serentak se nasional per 3 bln sekali baik offline maupun online.

*Pertanyaan 3.* Teh Susi
Mau tanya,  kan lebih baik kalo g pake buku plagiat dan sejenisnya,  tapi bagaimana kalo buat buku kuliah?  Kalo beli aslinya bisa sejuta,  bagaimana kalo kita g ada uang?

*Jawab:*
_teh susi ini jawaban dari aspirasi teman teman fasil mba sukeng, farda_
Ini berhubungan dengan keberkahan ilmu. Makanya Kita sering mengalami begitu mudah lupa dengan ilmu yang kita pelajari. Kecuali sudah meminta ijin penulis dan penerbit. Bisa menghubungi penerbit atau penulisnya.
Jika memang buku tidak tersedia maka kita harus minta ijin untuk meng-copy materinya. Tambah lagi dengan Jika memang ada keterbatasan dana,kita bisa akali dengan pinjam ke perpustakaan atau patungan bbrp teman untuk membeli yang asli.
Yang sering kejadian adalah sistem operasi, program, musik, dan film yang ada di HP dan komputer yang seringnya adalah bajakan.
Ilmu di peroleh untuk sehingga meninggikan derajat kemuliyaan, maka sudah sepatutnya, diperoleh pula dengan cara yang beradab dan mulia.
Mulai sekarang belajar mengurangi plagiatisme, mengkopi, membeli bajakan benda2 sumber ilmu.

*Pertanyaan 4.* Teh Vita
Meskipun ini judulnya ibu profesional.. bisakah saya ingin membagi ilmu dgn suami?? izin share materi ke suami.. krna sy yakin rumah tangga harus sepemahaman jg dgn suami.. kebetulan saya ldr dgn suami jd jarang berkomunikasi langsung.

*Jawab:*
Menurut saya sih malah wajib teh sharing ke pasangan. Karena biar sejalan dengan pasangan dan pasangan tau kita lagi belajar apa. Asal dengan prinsip jawaban pertanyaan nomor 2.

*Pertanyaan 5.* Teh Ziyana
Kita tau bahwasanya psikolog anak memiliki ilmu yg lbh dalam perihal anak atau bahkan hal yg kita bahas 'portofolio anak'. Apakah disarankan seorang anak seumur hidup minimal sekali dtg ke psikolog anak?

*Jawab:*
Kalau menurut saya, perlu teh ziyana. Prinsip saya bertanya kepada ahlinya, karena kita minim ilmu. Tapi kuatkan hasil dari psikolog dengan feeling orangtua. Sebenarnya orangtua adalah orang pertama yang memahami anak.
_ini tambahan jawaban pendukung dari seorang psikolog anak, mba hasya_
Sebetulnya ke psikolog itu tdk harus selalu kalau anak "kenapa2". Sama seperti konsep "check-up" kalau ke dokter, ke psikolog pun bisa juga check up untuk tau gambaran profil anak..
Yang bisa didapatkan kalau melakukan pemeriksaan ke psikolog:
- gambaran potensi kecerdasan anak
- kemampuan berpikir anak
- cara anak belajar
- kemampuan motorik, baik kasar maupun halus
- kemampuan komunikasi/bahasa
- kemampuan ekspresi & mengelola emosi
- kemampuan bersosialisasi
Dari semua poin ini, bisa dilihat aspek2 mana saja yg menonjol pada anak maupun mana yang membutuhkan stimulasi lebih lanjut

*Pertanyaan 6.* Teh Nurita
Apakah seseorang yang telah mengaplikasi adab menuntut ilmu dengan baik, pasti akan sejalan dengan keberhasilan  hasil belajar (prestasi)nya?

*Jawab:*
InsyaAllah teh, dengan prinsip menuntut ilmu karena ibadah. lalu jangan terpatok dengan prestasi. Dan ingat Allah menilai proses, kalau ternyata hasilnya ada sebuah prestasi, itu berarti bonus dari Allah.

*Pertanyaan 7.* Teh Nurita
Pada bahasan: adab menuntut ilmu pada diri sendiri, bagaimanakah cara menghilangkan pikiran 'saya sudah tahu' ketika menerima sebuah ilmu? Adakah triknya?

*Jawab:*
Kosongkan gelas teh, siap menerima tambahan ilmu & memperbaiki diri. Saya ada analogi begini.
Kita kan udah biasa dong masak nasi goreng. Lalu dapat undangan belajar masak nasi goreng bersama chef hotel. Pada saat belajar sama chef, kita mengkosongkan gelas, menerima ada orang lain yg lebih tau.

*Pertanyaan 8.* Teh Sitah
Bagaimana ya tips bisa membersihkan diri?

*Jawab:*
_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_
Tazkiyatun nafs dalam mencari ilmu ada 5 antara lain :
a. Bersihkan niat, semata-mata untuk meaningkatkan derajat kemuliaan hidup.
b. Ilmu itu untuk sebuah kemuliaan, maka carilah dg cara-cara yg mulia. Misal tidak menyakiti org yg menjadi sumber ilmunya, tidak membajak karyanya, tidak mengakui tulisannya sbg tulisan kita dll.
c. Kosongkan kepala dg ilmu yg sdh pernah kita dapatkan dan penuhi dengan rasa ingin tahu. Sehingga kita tidak jadi orang yg sok tahu
d. Belajar mendengarkan dengan sepenuh hati, ketika ilmu disampaikan.
e. Hilangkan dendam dan luka lama, sehingga kita tulus dalam menuntut ilmu, krn untuk kerahmatan bagi semesta, bukan krn kepentingan kita

*Pertanyaan 9.* Teh Ima
Teh,mengenai adab terhdp sumber ilmu point a mhn penjelasan lbh lanjut..
_Pertanyaan serupa:_
Teh Witri
Saya kurang paham mengenai Adab thdp sumber ilmu poin 1, maksudnya apakah kita jangan menyerap ilmu setengah-setengah / yang belum tuntas dari sebuah buku ketika kita belum menyelesaikan semua bacaannya, atau seperti apa teh? Mohon koreksi dan penjelasannya.
The Andam
Pada poin ADAB TERHADAP SUMBER ILMU disebutkan, tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari. Mohon penjelasan dan contoh konkritnya seperti apa?
The Siti
Teh kalau materi adab tenda sumber ilmu poin a. Tidak meletakkan sembarangan / memberlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari maksudnya gmn yaa?

*Jawab:*
_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_
Maksudnya poin a, tidak meletakkan sembarangan sebuah sumber ilmu dalam bentuk buku dg sembarangan adalah sbb :
a. Buku tidak diletakkan dalam posisi yg mudah terinjak secara langsung.
b. Buku yg sdg dipelajari dilipat-dilipat halamannya.
c. Dan banyak lagi perbuatan lain yg selayaknya tidak kita lakukan thd sumber ilmu.
Bagi yg beragama Islam, pernah dapat ilmu kan untuk tdk memperlakukan Al Qur'an dg sembarangan. Nah sejatinya di adab menuntut ilmu, hampir semua sumber ilmu harus diperlakukan dg bijak. Silakan dirasakan kalau kita pernah menulis sebuah buku, kemudian buku tsb diperlakukan seenaknya oleh orang yg membacanya, pasti rasanya sakit.

*Pertanyaan 10.* Teh Intan Fajar
Bagaimana cara mengkroscek sumber ilmu yang benar dan beradab? Mengingat ilmu di era digital saat ini banyak sekali dan dari sumber-sumber yang kita tidak tahu kebenarannya. Atau bahkan kita terjebak dengan ilmu yang telah tercampur dengan mitos (misalnya).
Dan mungkin latar belakang penyampai ilmu yang tidak kita ketahui. (Sekarang kan banyak ya orang-orang yang mengaku 'berilmu' tapi begitulah...)

*Jawab:*
Hampir sama dengan jawaban no 1 ya
Prinsipnya jangan taklid pada sesuatu, jangan hanya karena ikut ikutan. Begitu pun dengan sumber informasi.

*Pertanyaan 11.* Teh Selna
Ilmu apa yg pertama kali harus dipelajari oleh seorang ibu?

*Jawab:*
Menurut saya, ilmu manajemen emosi teh. Emosi itu mempengaruhi segala kehidupan.

*Pertanyaan 12.* Teh Witri
Jika menuntut ilmu adalah untuk berubah perilaku ke arah yang lebih baik, kenapa saat ini ada orang yang 'ngakunya' sudah sekolah tinggi tapi kenyataannya malah membuat akhlaqnya tidak terpuji?

*Jawab:*
saya pernah, sering diskusi sama suami. kita ini ada _generasi doing & generasi learning_
learning : belajar, berprestasi, memiliki nilai, tetapi tidak mengamalkan.
doing : belajar & mengamalkan.
contoh sederhana lihat di jalan saat lampu merah. Masih banyak ya kita lihat yang tdk mengamalkan 'kalau lampu merah berhenti'

*Pertanyaan 13.* Teh Witri
Faktor apakah yang membuat akhlaqnya menjadi seperti itu?

*Jawab:*
banyak faktor mba. niat, iman, lingkungan.
Contoh lampu merah.
niat : ah ga ada mobil koq, terobos ah
iman : ga ada polisi, aman (padahal Allah Maha Melihat)
lingkungan : ikut ikutan, atau mungkin meniru orangtuanya pernah begitu.

*Pertanyaan 14.* Teh Prita
Seperti yang kita tahu jenis ilmu itu ada banyak. Ada ilmu parenting, ilmu bisnis, dan ilmu lainnya yg berkaitan dengan hobi seorang ibu tertentu misalnya. Nah, bagaimana cara kita mempelajari ilmu2 tersebut dengan baik, apakah bisa fokus mempelajari banyak ilmu berbarengan secara harmonis dan 'menguasai'nya, atau harus menguasai salah satu dulu baru pindah ke yg lainnya? Terimakasih

*Jawab:*
_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_
Tentukan mata kuliah apa yg akan kita ambil di universitas kehidupan ini. Setelah ketemu, FOKUS di bidang tersebut. Maka gunakan prinsip : Menarik tapi TIDAK tertarik untuk godaan ilmu yang lain.
Totalitas dalam mencari ilmu di jurusan ilmu kita. Setiap info yang masuk gunakan sceptical thinking terlebih dahulu. Default jawaban di otak kita selalu "TIDAK PERCAYA" sebelum mendapatkan dari sumber yang valid. Cari sumber validnya. Sehingga ilmu tsb baik dan benar. Setelah itu amalkan.
Setiap selesai mendapatkan sebuah ilmu baru, saya dan pak dodik segera menuliskan, apa perubahan yg harus kita lakukan mulai esok hari berkaitan dg ilmu tsb.

*Pertanyaan 15.* Teh Farah
Gimana sikap kita atau adab dengan guru yg notabene uda profesor, kadang mereka lupa klo mereka pun tdk selalu benar, tp klo kita mengingatkan koq kesannya kita tidak menghargai beliau?

*Jawab:*
_share jawaban fasil rini mardia_
Yang pertama balik lagi ke adab menuntut ilmu, menerima dengan lapang dada, lalu pake skeptical thingking untuk tabayun.
Gunakan adab ketika menegur, karena profesor, mungkin kita bisa bawa beberapa referensi untuk diskusi lanjutan.

*Pertanyaan 16.* Teh Farah
Bagaimana caranya ttp istiqomah dlm menuntut ilmu tanpa melupakan adab2nya

*Jawab:*
Biasanya ilmu yg sesuai dengan fokus saya, saya catat, dengan harapan saya lebih mudah membaca tulisan saya, setelah itu saya sediakan waktu khusus membacanya. Ketika siap, saya praktekan, evaluasi. Begitu terus mba, jatuh bangun mengulangnya.
Ini ada jawaban tambahan:
_share jawaban ibu Septi_
pertama kali, carilah alasan terkuat mengapa kita harus belajar ilmu tsb. Hal ini sering disebut sbg
_start from the finish line_.
Setelah itu buat milestone nya, shg kita paham perjln menuntut ilmu kita ini sdh sampai dimana.
Memang tidak mudah, tapi kita bisa membuatnya menyenangkan dan penuh semangat

*Pertanyaan 17.* Teh Evi
Bagaimana cara untuk  ikhlas dan memulainya?apakah ikhlas disini adalah dengan takdir Allah dan kapasitas diri? Hal apa saja yg berkaitan dengan sesuatu yang harus diikhlaskan?

*Jawab:*
Mba, pertanyaannya super sekali, tapi saya tidak memiliki tips atau cara khusus. Ikhlas itu ilmu tingkat tinggi dan mengamalkannya sangat sulit. Menurut saya, ikhlas itu menerima setiap ritme hidup yang ditakdirkan dibarengi dengan ikhtiar. Misal, kita sudah makan minum jaga istirahat ternyata takdirnya kita sakit, ketika kita ikhlas sakit kita jadi penggugur dosa, kita barengi ikhlas kita dengan ikhtiar ke dokter, minum obat, jaga makan, jaga istirahat.
Mungkin terlihat simpel ya, tapi dalam prakteknya butuh perjuangan. Yang pasti memulainya, ikhlas memilih satu saja ilmu yg ingin kita fokus pelajari diantara banyaknya keinginan.

*Pertanyaan 18.* Teh Evi
Jika berkenan mohon diberikan tips soal menghargai waktu utamanya tepat waktu.

*Jawab:*
_share jawaban ibu Septi_
Urusan manajemen waktu yg harus dibenahi. Bagi waktu kita :
a. Mendidik anak
b. Pengembangan diri
c. Sosial masyarakat/bekerja

Selama 24 jam, gunakan masa transisi antar waktu tsb untuk mengembalikan energi kita.

Misal saat anak2 sdh tidur ke pengembangan diri, bersiap sepenuh hati, dg cara memberdihkan diri, ganti lokasi dan suasana. Masa transisi dari bekerja ke rumah mendidik anak, maka panggil suasana bahagia, percantik diri. Krn saat berangkat kerja kita cantik maka pulang harus lebih cantik. Berangkat kerja kita sabar, pulang harus lebih sabar.

*Sejatinya hanya anak dan suami kita yg paling berhak mendapatkan kondisi terbaik kita. Jangan dibalik.*

Dengan menerapkan hal tsb yg saya rasakan Allah memberikan bonus energi luar biasa untuk kita.
Prinsipnya,
*jangan pernah menuntut apa yg seharusnya kita dapatkan, tapi pikirkanlah apa yg bisa kita berikan.*

*Pertanyaan 19.* Teh Evi
Jika ada suatu majlis ilmu dan dirasa ilmunya sangat penting tapi guru berkeberatan untuk membawa anak apakah lebih baik tidak datang ke majlis ilmu tsb?

*Jawab:*
_share dari Ibu Septi_
ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU
Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :

1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?
DON'T ASSUME.
Misal:
"Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah",
ini ASSUME namanya.
Harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat masing-masing.
2. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.
3. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

_KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN._

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.
Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.

*Pertanyaan 20.* Teh Evi
Untuk yg sudah berpasangan apakah tazkiyatun nafs harus kedua2nya?

*Jawab:*
 Mba evi kita tidak bisa menuntut & memaksakan orang lain untuk melakukan sesuatu, tetapi kita bisa menularkan. Kita boleh mengingatkan dengan  baik, tetapi kita yang harus memulainya terlebih dahulu. For things to change, i must change first.

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘