Kamis, 15 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-10

Bismillahirrahmanirrahim

Membersamai Kareem sambil kuliah bunda sayang. Alhamdulillah rasanya ilmunya langsung teraplikasikan. Tiap hari ada saja tantangannya :D

Masih terus melatih intonasi dan suara yang ramah. Hal tesebut bisa benar-benar dilakukan ketika fokus kita ke anak. Jika fokus kita ke HP? Tidak akan bisa dilakukan komunikasi produktif. Selama ini saya kadang masih pegang HP ketika bersama Kareem, tak jarang jadi kurang fokus. Menanggapi Kareem sambil lirak-lirik layar HP :(. Tau salah tapi masih tetap dilakukan :'(.

HP oh HP begitu menyita perhatian.

Mendekatkan yang jauh. Menjauhkan yang dekat.

Penggunaan HP ini harus benar-benar diDISIPLINkan dan diTEGASkan.

Bismillah..

Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Kalau bukan mommy, siapa lagi?

#level1
#day10
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Bandung, 15 Juni 2017

Senin, 12 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-9

Bismillahirrahmanirrahim

Siapa yang tidak kenal dengan Kirana dan Ibuk?
Tingkah lucu nan menggemaskan Kirana banyak menyita perhatian orang.

Kemarin saya menonton beberapa video di IG nya Ibuk. Lalu saya berpikir tentang Komunikasi Produktif poin intonasi dan suara yang ramah, yang sedang saya latihkan saat ini. Sosok Ibuk bagi saya sudah berhasil menerapkan poin tersebut. Intonasi dan suara yang ramah. Enak gitu denger suara Ibuk saat berbicara dengan Kirana. Intonasinya dapet.

Saat suami sedang di rumah dan bicara di telefon dengan cust nya, intonasi dan suara yang ramahnya dapet banget. Beliau bicara sambil tersenyum seolah-olah orang yang ditelefonnya ada dihadapannya. Emmm.. harus minta turunan ilmunya juga ni dari suami.

Lalu saya berpikir tentang diri saya. Masih banyak kekurangan saya. Masih sering berkata "Kareem, jangan ah" atau "Kareem, kotor ihh". Jadi baper. Hikzz..
Kareem lagi aktif-aktifnya, loncat sana sini, lari sana sini. Kadang ga liat-liat jalan, kakinya terantuk lantai yanga beda tinggi lah atau kejedut tembok. Tanggapan saya? "Kareem jalannya liat-liat". Sambil agak cemberut.. rut.. ruttt.. rut. Maaf ya nak, mommy sedang belajar untuk merubahnya, supaya lebih baik saat berkomunikasi sama Kareem. Kalau lagi aktif-aktifnya saya belajar untuk selalu berstukur, Alhamdulillah Kareem sehat 😊

Alhamdulillah hari ini sebelum jam 9 malem Kareem udah tidur. Mommy jadi bisa ngerjain ini itu dulu sebelum ikutan tidur. Hehe

Komunikasi Produktif oh Komunikasi Produktif.. Tetep semangat untuk menjadi Ibu Profesional Kebanggan Daddy dan Kareem.

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Bandung, 12 Juni 2017

Minggu, 11 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-8

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa hari terakhir ini jam tidur malam Kareem agak berantakan, pola makannya pun demikian. Hari ini baru tidur jam 11 malam. Makan 2x sehari. Pagi jam 8.30. Waktu makan siang, malah tidur. Dan makan sore jam 4. Sisanya diselingi camilan buah atau kue kering.

Padahal saya sendiri jam 8 malam sudah sangat mengantuk. Jadi kami hanya bermain di kamar. Beberapa kali saya terlelap. Sementara Kareem eksplorasi ini itu. Dompet saya, rak buku, robot mainan, atau wadah perlengkapan Kareem.

Lelah, mengantuk, jadi komunikasi saya padanya hanya sebatas mengagakan "tidur yu nak, sudah malam, mommy juga sudah ngantuk" atau "tu di luar udah gelap, tirainya udah di tutup. Tidur yu". Efektif? Sepertinya tidak. Karena hanya sebatas mengatakan padanya dengan intonasi yang lelah. Tidak diikuti dengan bahasa tubuh.


Selamat tidur sayang. Semoga esok lebih baik dari hari ini ya.

Masih tetap semangat untuk terus konsisten melatih poin intonasi dan suara yang ramah.

#level1
#day8
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Bandung, 11 Juni 2017

Sabtu, 10 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-7

Bismillahirrahmanirrahim

Masih terus melatihkan intonasi dan suara yang menyenangkan.

Oo ya, 2 hari ini kami berbuka puasa di rumah nenek dan rumah uyut. Ada 2 hal yang saya dapatkan.

1. Menggunakan kata yang baik untuk menyatakan keinginan buang air. Sejak Kareem bayi kami biasakan katakan "pup" untuk buang air besar. Agar ketika lebih besar saat menyatakan keinganan buang air di depan banyak orang, kata-kata yang digunakan lebih nyaman di dengar.

2. Kompak dengan suami. Suami saya protes pada saya karena saya memberikan Kareem nyam nyam untuk cemilannya. Saya protes pada suami karena memberikan Kareem yakult saat kondisinya agak meler. Dan tentang bola. Sepertinya harus dibicarakan dengan suami agar kami lebih kompak. Dan tidak berdebat atau berbeda pendapat saat kami di depan anak.

#level1
#day7
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Rabu, 07 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-6

Bismillahirrahmanirrahim

Baru kemaren menulis tentang menanggapi apa yang dilakukan anak sepositif mungkin. Langsung diuji hari ini.

Hingga jam 12.35 pm saya menuliskan ini, Kareem sudah pup 4x. Banyak makannya. Hari ini ikutan sahur di tambah sarapan pagi. Nah saat cebok di kamar mandi, dia ambil air dingin terus tuang ke ember atau ambil air dari ember langsung buang ke kloset. Aga sebal saya, karena nanti air hangat di embernya jadi dingin dan habis. Saat itu saya kata kan padanya "Kareem, nanti airnya jadi dingin. Mau cebok pakai air dingin?" Sambil menyiramkan sedikir air dingin ke kakinya. "Kareem itu kloset, tempat pup, jangan kesanain airnya". Perkataan dengan ancaman jika air hangatnya habis atau jadi dingin ceboknya pakai air dingin saja. Sudah pasti tanpa intonasi dan suara yang ramah.

Astagfirullah.. komunikasi produktif.. ohhh.. komunikasi produktif.. Seandainya saja saya sedikit lebih bersabar. Seandinya saja saya sedikit lebih berpikir positif. Seandainya saja saya memberinya kesempatan. Komunikasi ohhh komunikasi..


Saat memandangnya tidur siang saat ini saya baru menyadari. Kareem meniru apa yang saya lakukan. Dia masukan air dingin ke ember karena kadang air di ember terlalu panas, jadi saya tambah air dingin. Dia masukan air hangatnya ke kloset karena melihat saya juga ketika mengguyur kloset.

Maafkan mommy sayang. Apa susahnya ya padahal memberikan anak kesempatan untuk mencoba? Mencoba mengambil air dingin ke air hangatnya yang terlalu panas. Mencoba bagaimana caranya menyiram air ke dalam kloset. Maafkan mommy ya nak..

#level1
#day6
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Bandung, 7 Juni 2017



Selasa, 06 Juni 2017

Komunikasi Priduktif Hari Ke-5

Bismillahirrahmanirrahim

Kuliah Bunda Sayang dengan materi komunikasi produktif sambil membersamai anak yang sedang belajar bicara.

Alhamdulillah, menarik sekali.
Tantangannya adalah bagaimana kita mengerti apa yang dikatakan anak dan menanggapinya.
Tak jarang ada perkataan anak yang belum saya mengerti. Maaf nak. Mommy coba terus untuk memahami :)

Intonasi dan suara yang ramah masih terus dilakukan, semoga konsisten. Tidak hanya karena tantangan 10 hari ini saja.

Kali ini saya juga belajar menanggapi sepositif mungkin apa yang dilakukan anak. Misalnya ngambil ulekan dan cobek batu, ngambil bawang putih. "Oooo.. Kareem mau bantuin mommy masak ya. Hati-hati ulekannya dari batu, berat".

Saya coba meminimalisir penggunaan kata 'jangan'. Tantangannya adalah jika orang terdeket berkata 'jangan ini, jangan itu'. Saya tanggapi dan coba jelaskan mengapa jangan demikian dengan perkataan tanpa jangan.

#level1
#day5
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Bandung, 6 Juni 2017


Senin, 05 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-4

Bismillahirrahmanirrahim

Semakin menyadari betapa pentingnya komunikasi produktif bersama anak. Kareem 17 bulan sedang belajar bicara dan berkomunikasi. Dengan caranya, anak mengerti apa yang kita ucapkan. Termasuk juga Kareem.

Intonasi dan suara yang ramah.
Masih terus coba saya latihkan setiap harinya. Pemilihan kata-kata, bahasa tubuh lewat kontak mata, dan intonasi yang menyenangkan.

Beberapa minggu kemarin saya batuk, masuk angin, ditambah mual jadi beberapa kali muntah. Kareem meniru saya ketika muntah. Owweeekkk oweeekkk katanya. Termasuk tadi malam. Saya katakan padanya "Kareem doain ya mommynya supaya ga sakit lagi, sehat terus". Ehhh ga taunya Kareem langsung nangis sesengukan. Agak sensitif buat Kareem mendengat kata 'sakit'. Misalnya saat main-main ga taunya dia mukul terlalu keras, dikatakan jangan nanti sakit. Langsung meluk dan diam. Kareem sudah bisa merass bersalah, tapi momny nya jadi merasa bersalah berkali-kali lipat. Pentingnya memilih kata-kata ketika berkomunikasi. Maaf ya nak, mommy akan terus belajar agar menjadi ibu terbaik untuk Kareem.

#level1
#day4
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 04 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-3

Bismillahirrahmanirrahim

Komunikasi Produktif membersamai Kareem yang sedang belajar bicara.

Menanggapi apapun yang ia katakan.

Kontak mata ketika bersama Kareem.

#level1
#day3
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 03 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-2

Bismillahirrahmanirrahim

Melatih poin "Intonasi dan suara yang ramah" dalam komunikasi produktif dengan anak, ternyata tidak mudah. Dibutuhkan kesadaran dan konsistensi.

Kesadaran. Ya, harus sadar akan apa yang kita ucapkan pada anak. Tidak hanya kata-kata yang keluar dari mulut kita, tapi juga disertai intonasi suara yang tepat dan bahasa tubuh yang sesuai.

Konsisten. Kesadaran ini mempengaruhi konsistensi. Kalau inget dilakukan rumus 7-38-55. Semoga bisa konsisten ya, tidak hanya untuk tantangan 10 hari tapi juga untuk terus kedepannya.

Selama ini? Penggunaan kata-kata dalam berkomunikasi dengan anak sudah saya coba memilih kata-kata yang baik. Intonasi suara juga saya rasa cukup. Tapi bahasa tubuh.. ini yang belum saya lakukan dengan baik. Padahal bahasa tubuh ini memegang peran yang paling besar dalam menentukan keberhasilan sebuah komunikasi.

Hari ini, masih dengan kegiatan bermain tanah dan 'banyak iklan' ketika makan. PR saya selain bisa melatih komunikasi produktif, juga mencoba menu baru agar makanan Kareem lebih menarik.

Gadget. Kadang mengalihkan dunia ku. Tau kurang manfaat. Tau kurang tepat. Tapi tetap saja menarik. Hik.. hikkk.. jadi perhatian ke Kareem ga 100%. Saya tau selama ini mungkin Kareem bawa tempat sampah atau keresek bekas pup nya untuk menarik perhatian saya. Nak, maafkan mommy ya sayang.

Bismillah, semoga besok bisa lebih baik dari hari ini.

#level1
#day2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Bandung, 2 Juni


Kamis, 01 Juni 2017

Komunikasi Produktif Hari Ke-1

Bismillahirrahmanirrahim

Hari pertama tantangan 10 hari komunikasi produktif.

Poin komunikasi produktif yang menurut saya penting dan utama untuk dilatihkan pertama adalah "intonasi dan suara yang ramah" pada anak.

Kareem (17 bulan) lagi suka-sukanya mengeksplorasi lingkungan sekitar dan mencontoh apa yang orang dewasa lakukan. Kadang saya sering geregetan karena sudah dibilang berkali-kali-kali-kali masih saja dilakukan. Misalnya membawa tempat sampah keliling ruangan atau mainan tanah yang ada di pot tanaman.

Mencoba untuk berintonasi atau bersuara ramah sudah dicoba, tapi masih belum konsisten. Seringnya sambil cemberut dan tidak diikuti dengan intonasi ramah atau bahasa tubuh saya.

"Kareeem, iiihhh.. kotor. Udah yuk."
"Kareem ih, udah mandi ga main tanah lagi ah"
Ini kata-kata yang sering keluar.

Pas kemaren dapet materi Komunikasi Produktif di Kuliah Bunda Sayang, Selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh.

Hmmm.. mungkin karena ini komunikasi saya dan Kareem belum produktif. Saya hanya berkata-kata saja tanpa diikuti dengan intonasi dan bahasa tubuh.

Bismillah ya, semoga membuahkan hasil 9 hari kedepan.


Hari ini Kareem masih mainan tanah. Ga bisa liat pintu rumah kebuka, kalau pintu depan rumah kebuka langsung keluar. Kali ini saya coba lebih santai, biar dia eksplorasi. Tanahnya diambil, dipindahkan ke ember. Sebetulnya karena belum mandi jadi saya izinkan dan karena saya belum mendalami benar materi kuliah Komunikasi Produktif. Heuheu.. maaf keun. Awalnya galau antara mengendalikan emosi atau intonasi dan suara yang ramah. Akhirnya saya putuskan intonasi dan suara yang ramah, karena menurut saya pasti harus dilakukan dengan emosi yang terkendali. Mana bisa ramah kalau emosian ya? Hehehe.

#level1
#day1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Bandung, 1 Juni 2017





Rabu, 24 Mei 2017

Istri vs Suami

Bismillahirrahmanirrahim


Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa,
Ternyata bagi suami ada yang lebih menarik dari Bunga Tulip :D

Istanbul, April 2017

Rumah Allah, April 2017

Bismillahirrahmanirrahim

Semakin paham apa itu kerinduan setelah saya datang ke sana.
Ya Allah, rindu Baitullah..
Rindu Ya Allah..



Semoga Allah lapangkan rizki dan berikan keberkahan usia agar kita bisa kembali ke Baitullah.
Aamiin

Mecca, April 2017


Rabu, 22 Maret 2017

NHW9 Bunda Sebagai Agen Perubahan

Bismillahirrahmanirrahim

MasyaAllah. Alhamdulillah.
Luar biasa bertemu dengan kelas Matrikulasi Ibu Profesional ini.
Kini sampailah di NHW terakhir. NHW#9.

Dengan ikut kelas matrikulasi ini juga saya berharap teman-teman bersyukur dan ikhlas dengan perannya saat ini. InysaAllah. Ibu bekerja. Bekerja di ranah domestik atau ranah publik. Semoga menjadi amal jariyah..
Bersyukur sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik.
Bersyukur sebagai ibu yang bekerja di ranah publik.
Kadang kita tidak tahu apa yang kita jalani saat ini adalah yang orang lain inginkan. Sedangkan kita berharap menjalani apa yang orang lain jalani.
Bersyukur dan ikhlas. Karena masyarakat masih membutuhkan kesabaran dari dokter atau perawat perempuan, karena masyarakat masih membutuhkan kasih sayang dari seorang guru perempuan.
MasyaAllah.. ada seorang ibu rumah tangga, guru, enterpreneur, makeup artist, perawat, dokter, dan peran teman-teman lainnya yang saya belum tahu. Saya bangga bisa berkenalan dengan teteh-teteh semuanya.
Tetap semangat, semoga kita semua berhasil menjadi ibu profesional kebanggan keluarga.

Dengan ikut matrikulasi ini saya jadi banyak bersyukur. Mencari tahu betapa mulianya seorang ibu. Betapa pentingnya seorang ibu untuk selalu belajar.

"Mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi".

Di NHW 9 kami diminta menengok keluar. Melek dengan isu sosial yang ada di masyarakat.

Mulailah dari yg sederhana,  lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.


Jujur pertama kali membaca NHW9 ini saya bingung. Rasanya di lingkungan tempat kami tinggal saat ini. Rumah Eyang Kareem. Adem ayem ajah. Huhuhu

Semakin meresapi NHW9 barulah saya tahu dan saya paham isu sosial yang terjadi, terutama di keluarga kami.

Minat, hobi, dan ketertarikan saya Parenting. Jurusan yang saya ambil di Universitas Kehidupan ini. Saya tertarik dengen pendidikan anak usia dini dan homemade healty baby food. Sejak Kareem 6 bulan memasak MPASI ini sudah menjadi minat dan hobi. Hehe..

Isu sosial, terutama yang terjadi di keluarga kami adalah penggunaan gadget pada anak-anak sebelum usia 2 tahun. Mulai dari nonton video/youtube superhero sampai main games.
Kareem kenal gadged? Iya. Karena mau tak mau kami video call setiap hari dengan Daddy. Sejauh ini sebatas video call, liat foto/video Kareem. Dulu sempat nonton you tube (liat pertunjukan iklan paus, denger asmaul husna anak, denger lagu bismillah atau finger family), tapi kami coba minimalkan sekaligus tiadakan, setelah tahu banyak dampak negatifnya. Sekarang Kareem juga sudah mulai ngeh kalau saya pegang HP, minta diputerin video dianya. Bismillah, mommy nya juga sambil menguragi interaksi dengan HP. Interaksi dengan HP bisa dihilangkan dengan cara membersamai anak disetiap kegiatan (khususnya) dan membuat kegiatan bermain bersama/play date (umumnya). Membersamai Kareem disetiap kegiatan dan merancang kegiatan khusus yang sesuai dengan perkembangan usia Kareem.
Play date bermain bersama anak lainnya bisa dilakukan di rumah sambil bikin kreasi atau filed trip mengunjungi kebun binatang, musium, atau taman, dll.

Semoga kelak keluarga kami juga bisa memiliki rumah baca sekaligus rumah main. Pentingnya menanamkan kecintaan anak pada buku. Bukan memaksanya untuk membaca. Jika anak bisa (cepat) membaca itu adalah bonusnya. Kegiatan yang ingin saya lakukan di rumah baca selain membaca buku adalah berdongeng.

Semoga bisa mengurangi bahkan menghilangkan kecanduan anak dengan gadget. Aamiin

Isu sosial yang kedua adalah MPASI buatan ibu. Tidak ada waktu, malas, repot, atau ibu sibuk di ranah publik.. seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak memasakan MPASI untuk anak. Anak berhak mendapatkan nutrisi yang baik.
Mengapa harus homemade healty baby food?
Angka ADB (Anamina defisiensi besi) dan stunting yang cukup tinggi di Indonesia akibat asupan MPASI yang kurang tepat.
Sumber : group FB homemade healty baby food.
Yang ingin bergabung boleh saya bantu add ya nanti akan di app sama adminnya :)

Bagi saya pribadi alasan lain kenapa harus homemade?
Agar saya terbiasa memasak makanan sejak anak masih bayi.

Kata siapa MPASI repot dan perlu alat yang canggih (slow cooker dan teman-temannya)?
Ibu yang bekerja di ranah publik tetap bisa memasakan untuk anaknya.
Ibu yang sudah memiliki anak yang lebih besar tetap bisa memasakan untuk anaknya.

Selama ada kemauan, mau membuka hati dan pikiran.. hehe :D

Presentasi homemade healty baby food selama ini by lisan saja. Sambil ngobrol santai. Dan biasanya teman-teman yang usia anaknya menjelang 6 bulan saya tawarkan untuk masuk group tersebut.
Ingin rasanya sekali-sekali demo masak MPASI, agar menepis alasan bahwa memasak MPASI itu repot, ribet, dan susah.

Semoga Allah ridho dan kami bisa membuat perubahan atau pemahaman kearah yang lebih baik lagi.

Bandung, 22 Maret 2017


Nafsa Karima,
Seorang ibu yang sedang berusaha menjadi Ibu Profesional dan menemukan misi spesifik hidupnya.

Rabu, 15 Maret 2017

NHW8 Misi Hidup dan Produktivitas

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah sampai juga di NHW#8 ini. Satu sisi senang satu sisi sedih. Senang karena bisa mengikuti proses belajar di kelas Matrikulasi Ibu Profesional dan sedih karena akan segera berakhir di sesi 9. Tapi akan senang lagi kalau bisa lanjut terus di kelas Bunda Sayang.. aamiin.

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :


a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Dari 5 aktivitas yang saya tulis di kuadran SUKA dan BISA di NHW#7, saya memilih Mengajar.


b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :

1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
Saya ingin menjadi ibu yang mampu mengajar, mendidik, dan membimbing anak-anak kami di rumah. Saya ingin menjadi perempuan yang mampu memberikan motivasi, inspirasi, atau pemahaman yang lebih baik pada orang tua lainnya tentang pendidikan anak, terutama anak usia dini.

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
• Saya ingin bisa selalu melakukan (mempraktekan) ilmu parenting dan ilmu pendidikan anak usia dini yang sudah saya dapatkan.
• Saya ingin menjadi teladan yang baik untuk anak-anak. Karena bagaimana pun teladan yang baik erat kaitannya dengan mengajar, terutama dalam mengajarkan nilai dan moral.
• Saya ingin melakukan (berkegiatan) bersama dengan anak, menemani tumbuh kembang mereka, dan mendampingi mereka hingga dewasa. InsyaAllah.

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Saya ingin memiliki perpustakaan/rumah baca untuk anak-anak. Disana kami bisa berkenalan, belajar, bermain bersama dengan anak lain, dan mendongeng untuk anak-anak. Saya ingin memiliki blog pribadi dan membuat buku, agar apa yang saya lakukan abadi.
Saya ingin memiliki kemampuan untuk bisa menjadi inspirator.


c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)?
Saya ingin menjadi istri yang solehah dan taat pada suami, anak yang berbakti pada orang tua, perempuan yang menginspirasi orang lain, dan ibu yang profesional.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan)
• Menjadi pengajar (guru, fasilitator, motivator) untuk anak-anak di rumah.
• Mempunyai perpustakaan/rumah baca.
• Belajar dan mengamalkan ilmu di kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Saleha.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
• Konsisten dalam manajemen waktu
• Mampu mengamalkan ilmu yang didapatkan dari kelas MIP
• Masuk kelas Bunda Sayang dan mampu mengamalkan ilmunya
• Menguatkan pondasi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan


Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH.

Semoga Allah ridho dan memberkahi langkah kita dalam menjalankan peran spesifik kita diciptakan.


Bandung, 15 Maret 2017
Salam Ibu Profesional,


Nafsa Karima

Kamis, 09 Maret 2017

NHW7 Tahapan Menuju Bunda Produktif

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah masih di kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Senang rasanya bisa merasakan "kuliah" kembali. Kali ini kuliah di Universitas Kehidupan yang ilmunya langsung diamalkan, InsyaAllah..

Di NHW #7 ini kami diminta mengkonfirmasi apa yang sudah ditemukan selama ini dengan tools yang di buat oleh Abah Rama di Talents Mapping. Semoga kita semua bisa masuk di ranah produktif dengan bahagia. Aamiin.

Berikut ini adalah kekuatan diri (strength typology saya) dari temubakat.com.


NAFSA KARIMA, anda adalah orang yang berani menghadapi orang secara empat mata,keras kepala, berani mengambil alih tanggung jawab , senang mengkomunikasikan sesuatu yang sederhana menjadi menarik , banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya , selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang , senang mengkomunikasi ideanya , suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur , keras menghadapi orang akan tetapi tidak menyukai konflik , senang memotivasi dengan berbagai cara ada yang melalui sifat periangnya ada yang melalui sifat empatinya ada juga karena selalu ingin memajukan orang lain.





MasyaAllah..
Cerita sedikit yaa.. Saya kuliah di Teknologi Industri Pangan UNPAD, tapi saya senang mengajar, terutama anak-anak SD. Saya senang berhubungan dan berinteraksi dengan anak-anak.
Saya pernah bekerja 2 tahun menjadi guru di sebuah SDIT, sebelumnya saya pernah juga menjadi guru les privat anak-anak. Setelah menikah dan hamil saya memutuskan resign dan ingin fokus di rumah untuk keluarga.

Apa saya menyesal kuliah di Pangan? Tidak. Karena dari sana saya mengetahui potensi diri saya. Dari sana saya tahu kalau saya suka mengajar. Ilmu yang saya pelajari di Tek. Pangan juga sangat menunjang untuk kehidupan, karena berkaitan dengan makanan.

Melihat dari hasil kekuatan diri ini, ternyata saya berbakat untuk menjadi guru. Alhamdulillah.. communicator, educator, dan motivator adalah bakat yang dibutuhkan untuk menjadi guru.
Sekarang pun saya ingin tetap menjadi guru, insyaAllah guru untuk anak-anak kami.

Berkaitan dengan Jurusan yang saya pilih di Universitas Kehidupan ini, saya merasa bakat yang saya temukan lewat talents mapping Abah Rama ini menunjang jurusan yang saya pilih. Parenting. Bidang studi Pendidikan Anak Usia Dini. Alhamdulillah jadi semakin percaya diri.

Kelamahan saya adalah keteraturan, kerapihan, perencanaan, ketelitian, dan kawan-kawannya. Mengutip dari tag line dari temu bakat,

" Fokus pada Kekuatan dan Siasati Keterbatasan"

Rasanya pas sekali. Luangkan waktu untuk belajar dan berlatih pada aktivitas yang merupakan potensi kekuatan. Siasati keterbatasan bisa dengan cara menghindarinya, mendelegasikannya, bersinergi dengan orang lain, atau menggunakan peralatan/sistem.

Berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan ini berhubungan dengan kuadran aktifitas. Kuat karena suka dan bisa. Lemah karena tidak suka dan tidak bisa. Betul apa bener? hehehe

Ini adalah kuadran aktifitas saya.



Untuk aktifitas yang saya suka tetapi tidak bisa mungkin bisa saya kembangkan dengan cara belajar atau berlatih.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR".

Semoga bisa bermanfaat untuk orang lain.
Semoga bisa menjadi motivator dan inspirator untuk keluarga pada khususnya dan untuk masyarakat pada umumnya.
InsyaAllah, aamiin.


Bandung, 9 Maret 2017
Salam Ibu Profesional


Nafsa Karima

Rabu, 01 Maret 2017

NHW6 Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Bismillahirrahmanirrahim

Manajer.. saya merasa dalam hal atur mengatur saya agak lemah
Kenapa? Karena kadang apa yang sudah saya rencanakan tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan.
Dibaca : BELUM KONSISTEN.

Alhamdulillah dengan Ikut kelas MIP ini saya merasa dibimbing dan diarahkan menjadi pribadi yang lebih baik.. apalagi di NHW#6 sekarang ini yang menurut saya menuntut kita agar lebih detail.

Bismillah, semoga Allah ridho, suami ridho :)
Semoga Allah berkahi..

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal".

Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Baiklah, sebelum menjadi manajer keluarga yang handal, saya harus lebih dulu mampu memanaj diri sendiri. Semangaaaaatttttttt :D

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS.

Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita "Merasa Sibuk" sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.


Aaahhh.. sepakat banget!
Kadang saking sibuk n numpuknya pekerjaan malah jadi gak kekerjain. Bingung mau mengerjakan yang mana dulu.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :

Dimulai dari menentukan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting menurut saya.


Aktifitas yang paling penting :
1. Beribadah
2. Berkegiatan bersama anak
3. Memasak

Aktifitas yang paling tidak penting :

1. Scroll wall Facebook dan Instagram
2. Jualan online
3. Menyetrika

Beribadah, berkegiatan bersama anak, dan memasak adalah aktifitas yang penting bagi saya. Beribadah sudah pasti penting. Berkegiatan bersama dengan Kareem juga penting, di materi 4 kemarin saya diingatkan bahwa bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi.
Memasak juga termasuk kegiatan penting menurut saya. Meski belum bisa menyajikan masakan ala ala master chef, tapi rasa masakan tidak kalah dari restoran  bintang lima.. wekekeke. Saya suka memasak. Saya suka memasak untuk suami. Saya suka memasak MPASI Kareem. Lihat mereka makan lahap hap hap bahagia. Makannya nambah lebih nambah bahagia. Saya bahagia memasak Hehe.. Karena saya orang pangan (kuliah jurusan tek. Pangan) dulu ada istilah "kamu adalah apa yang kamu makan" dan dosen kuliah dulu pernah berkata "semua penyakit berasal dari pola makan atau makanan yang tidak baik". Maka senang sekali jika nanti bisa naik jabatan dari juru masak menjadi ahli gizi keluarga. Tapi kenyataannya sekarang? "Mas, cha masakin telor ceplok ala ala chaca ya.." atau "Mas dibikinin telor dadar ya". Hikzzz..

Nah ini dia kegiatan yang menurut saya paling tidak penting tapi justru waktu saya habis untuk melakukan kegiatan ini. Scroll FB dan IG, jualan online, dan menyetrika. Diantara ketika kegiatan tidak penting ini yang paling sering saya lakukan adalah scroll FB dan IG. Banyak alasan pembenaran saya melakukan kegiatan tidak penting ini. Sambil nunggu suami balas WA sekalian liat di FB ada apa. Sekalian nunggu teteh bales BBM sekalian liat di IG ada apa. Nah ini ada kaitannya dengan jualan on line. Saya sempat jual gamis on line. Bukan saya yang produksi. Saya sebagai reseller/ dropship. Ada yang tanya gamis A ukuran B. Saya harus BBM teteh ada atau tidak. Kalau tidak ada, infokan ke customer. Customer tanya lagi warna hitam yang ready yang mana saja. Harus tanya ke teteh. Teteh harus ngcek dulu dan teteh juga punya balita dan bayi. Aiiiihhhh.. saya sebetulnya tidak suka jualan online. Waktu saya habis untuk menunggu. Kalau ternyata barangnya ada, tunggu transferan dari customer, terus langsung transfer ke teteh. Semoga kedepannya  jualan online punya barang sendiri, insyaAllah.
Kegiatan BERSAMA Kareem pun berubah menjadi DENGAN Kareem. Secara fisik saya ada dengan Kareem, tapi pikiran dan hati saya di HP. Main sama Kareem sambil buka HP.  Balas WA, balas komen FB, atau balas komen IG. Maaf ya nak.. :'(
Menyetrika, PR nya ibu-ibu ternyata ya.. huaaahhhh, setelah baca aliran rasa teman-teman di group serasa punya balad.. wekekeke
Kenapa menurut saya tidak penting? Karena setrikaan saya menumpuk dan kalau dikerjakan tidak selesai-selesai. Minggu ini selesai. Tapi minggu depan akan ada lagi. Saya merasa urusan setrika menyetrika ini tidak pernah selesai. Alasan saya yang lain adalah cangkeul dan pegeul. Mungkin ini lah saatnya mendelegasikan urusan setrika menyetrika ini. Saya masih sanggup menyetrika baju Kareem, karena ukurannya kecil (14 bulan) jadi lebih gampang dan cepat selesai. Tapi kalau udah ketemu gamis katun saya atau kaos-kaos punya suami. Setrikanya saat mau dipakai saja. Mas, akankah saya masih cantik jika tidak menyetrika? Hehehe :p

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.

Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time.

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda. Sebetulnya bagi saya ini agak sulit, mengingat Kareem masih 14 bulan dan masih ASI langsung. Jadi selama ini beberapa kegitan masih bersifat fleskibel. Fleksibel menurut saya? Betul pandangan Ibu Septi. Santai, mengalir begitu saja, tanpa rencana.

Padahal Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.




Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? kalau tidak segera revisi,
kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

Bismillah, semangat!!!!


Bandung, 1 Maret 2017
Salam Ibu Profesional,


Nafsa Karima

Rabu, 22 Februari 2017

NHW5 Design Pembelajaran ala Nafsa Karima


Bismillahirrahmanirrahim

NHW #5 ini, Singkat. Praktek membuat Design Pembelajaran ala kita. Ala saya. Design Pembelajaran ala Nafsa Karima.

Design Pembelajaran, yang terlintas pertama kali di pikiran saya adalah RPP sewaktu masih mengajar dulu.. hihihii
Saya sebetulnya tidak ada basic membuat RPP. Kuliah Jurusan Teknologi Pangan tapi punya semangat mengajar anak-anak, SD terutama :)

Sebelum membuat Design Pembelajaran ala saya. Saya masih bingung sebetulnya dengan design pembelajaran itu sendiri. Apa sih design pembelajaran itu? Cari tahu dulu apa itu design pembelajaran, langsung tanya sama embah Google.

Saya menuliskan ini sambil terus memamah biak materi 5 Belajar Bagaimana Caranya Belajar dan NHW#5.

Akhirnya ketemu sama tulisan yang oke di sebuah blog pribadi. Desain pembelajaran menurut istilah dapat didefinisikan:

1. Proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan keterampilan pada diri pembelajar ke arah yang dikehendaki (Reigeluth).
2. Rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan (Briggs).
3. Proses untuk merinci kondisi untuk belajar, dengan tujuan makro untuk menciptakan strategi dan produk, dan tujuan mikro untuk menghasilkan program pelajaran atau modul atau suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah, dimana langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang, mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar (Seels & Richey AECT 1994).
4. Suatu proses desain dan sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen (Morisson, Ross & Kemp 2007).

-- Sumber : Isna Izakiya, Fungsi dan Pentingnya Perencanaan dan Design Pembelajaran, 2015 . (https://www.google.co.id/amp/s/isnaizakiya29.wordpress.com/2015/03/17/fungsi-dan-pentingnya-perencanaan-dan-desain-pembelajaran/amp/) --


Yes. Mulai memahami. Design pembelajaran yang saya tangkap adalah perencanaan yang dilakukan agar pembelajaran berjalan efektif dan efisien dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Bismillah, menurut saya hal yang pertama saat membuat Design Pembelajaran ala saya adalah menentukan dulu apa tujuan pembelajarannya. Apa tujuan kita belajar?

Jurusan yang saya ambil di Universitas Kehidupan ini adalah Parenting. Saat ini sedang mendalami bidang studi Pendidikan Anak Usia Dini. Maka tujuan dari saya belajar adalah menjadi ahli dalam bidang pendidikan anak usia dini.

Nah dari sini lalu dijabarkan agar tujuan pembelajaran tersebut bisa tercapai.

1. Mengapa saya belajar?
• Agar lebih dekat dengan Allah Yang Maha Pemilik Ilmu.
• Agar bisa memberikan manfaat untuk orang lain pada umumnya dan untuk anak saya pada khususnya (Kareem, 14 bulan).

2. Bagaimana cara saya belajar tentang pendidikan anak usia dini?
Dengan cara :
• Mengikuti webinar yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini (rumah inspirasi, rainbow castle, dll)
• Membaca website (indonesia montessori, rumah main anak, rumah inspirasi, dll)
• Ikut komunitas atau group(institut ibu profesional, rumah inspirasi, hhbf, dll)
• Membaca buku atau ebook
• Menggali informasi melalui fb dan ig orang yang lebih paham
• Menuliskan kembali ilmu yang saya dapatkan
• Mempraktekan langsung dan sharing dengan orang lain

3. Kapan waktu saya belajar?
• Fleksibel, ketika target pekerjaan domestik di hari itu telah selesai, ketika anak sudah tidur, ketika bermain bersama anak. Sesekali mengajak anak terlibat ketika saya sedang mencari informasi dari buku. Bisa juga ketika dalam perjalanan bersama suami (Ini paling efektif untuk berdiskusi dengan suami. Kami LDM dan weekend biasanya ke rumah mertua, di perjalanan kami mengobrol)
• Sesuai waktu yang ditentukan, misal webinar pada hari A jam B atau materi MIP tiap hari Selasa jam 08.00 pagi.

4. Berapa waktu yang saya gunakan untuk belajar dalam sehari?
Seperti dalam NHW#4 kemarin, saya mengalokasikan 6 jam/hari untuk mencari ilmu, menyiapkan kegiatan, mempraktekkan, dan menuliskan kegiatan saya bersama anak.

5. Dokumentasi apa yang saya gunakan dalam mempelajari pendidikan anak usia dini?
Saya menggunakan catatan untuk teori-teori pendidikan anak usia dini, hanya saja masih aga berantakan sebagian di notes HP, sebagian tertulis di binder, dan sebagian ada di laptop.
Untuk praktek saya mendokumentasikan kegiatan bersama anak dalam bentuk foto atau video yang kemudian saya share di fb dan ig. Semoga bisa menjadi inspirasi.

6. Dengan siapa saya belajar?
• Dengan suami dan anak
• Dengan orang terdekat di sekitar saya
• Dengan komunitas

7. Dimana saya belajar?
• Belajar bisa dilakukan dimana saja, disemua tempat di muka bumi ini



Alhamdulillah, ini adalah Design Pembelajaran ala saya.
Semoga Allah berkahi dan mudahkan jalan kita menuntut ilmu.

Salam Ibu Profesional,

Nafsa Karima
Bandung, 22 Februari 2017

Kamis, 16 Februari 2017

NHW4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah



Bismillahirrahmanirrahim

Masih semangat untuk terus belajar di Kelas Matrikulasi Ibu Profesional ini. Semoga bisa terus konsisten dan fokus belajar di kelas-kelas selanjutnya.. Ammiin

Kami diminta melihat kembali NHW sebelumnya. Dan saya sekarang mulai menemukan benang merahnya..
Bismillah..
.
.

NHW#1 Adab Menuntut Ilmu
Sampai hari ini saya masih TETAP memilih Jurusan Ilmu PARENTING di Universitas Kahidupan yang saya jalani. Hanya saja saat ini saya sedang mendalami Bidang Studi Pendidikan Anak Usia Dini di Jurusan Parenting tersebut.
.
.

NHW#2 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan
Sudahkah saya belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita?
BELUM.
Hal ini sudah ditanyakan oleh suami dan beliaupun mengingatkan saya tentang konsisten. Saat diingatkan oleh suami bagaimana reaksi saya? Saya menangis, saya sakit hati. Kenapa reaksi saya demikian? Karena apa yang dikatakan oleh suami BENAR. Saya belum konsisten dan beberapa checklist terlalu mudah.
Beri tau orang lain apa checklist kita, kata suami. Kenapa? Bukan agar orang lain mengingatkan jika kita lupa. Tapi biar kita MALU jika kita tidak melakukannya. Baiklah ini mungkin salah satu cara saya melatih dengan keras diri, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
.
.

NHW#3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah
Membaca dan merenung kembali. Semoga gak baper yang bikin galau. Hehe
Apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup akan makin terlihat.
Bismillah, JUST DO IT.
Bidang yang akan saya kuasai adalah Pendidikan Anak Usia Dini.
Misi hidup :
1. Memfasilitasi pendidikan anak usia dini
2. Memberikan inspirasi untuk orang tua lain tentang pendidikan anak usia dini
Bidang : Pendidikan Anak Usia Dini
Peran : Fasilitator dan Inspirator
.
.

Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup saya dan menjadi ahli di bidangnya adalah :
1. Mommy jadi Dokter, ilmu yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak usia dini
2. Mommy jadi Koki, ilmu yang berkaitan dengan Makanan Pendamping ASI. MPASI Rekomendasi WHO saya pelajari dari group FB Homemade Healty Baby Food (HHBF).
3. Mommy jadi Fasilitator, ilmu yang berkaitan dengan aktifitas stimulus keseharian anak yang sesuai dengan tahapan usia anak. Contohnya adalah mempelajari kurikulum / metode pendidikan anak usia dini atau memahami checklist indikator perkembangan anak sesuai tahapan usianya.
Poin 1 - 3 ini akan saya mantapkan dengan ilmu pengasuhan di Bunda Sayang.
4. Bunda cekatan, Ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
5. Bunda produktif, ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
6. Mommy berbagi, ilmu yang dibutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain agar tercipta komunikasi yang baik dan ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang. Ilmu ini akan saya pelajari lebih dalam di kelas Bunda Shaleha, insyaAllah.
.
.

Milestone yang saya tetapkan per 6 bulan, adalah  :
KM 0 – KM 1 (semester 1) : Menguasai Ilmu seputar tumbuh kembang anak usia dini
KM 1 - KM 2 (semester 2) : Menguasai Ilmu seputar MPASI anak
KM 2 - KM 3 (semester 3) : Menguasai Ilmu seputar stimulus untuk anak usia dini
KM 3 - KM 5 (semester 4 dan 5) : Menguasai ilmu seputar pengasuhan anak
KM 5 - KM 7 (semester 6 dan 7) : Menguasai ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
KM 7 - KM 9 (semester 8 dan 9) : Menguasai ilmu seputar ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll
KM 9 - KM 11 (semester 10 dan 11) : Menguasai Ilmu seputar komunikasi produktif dan Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

KM 0 saya adalah saat saya berusia 26 tahun, saat melahirkan Kareem. Saat ini saya sudah masuk semester ke-3, dan saya sedang belajar tentang ilmu seputar stimulus untuk anak usia dini. Dari sini saya akan memperdalam lagi tentang pengasuhan anak di IIP Bunda Sayang, insyaAllah.
Bismillah, saya mendedikasikan 6 jam/hari saya untuk mencari ilmu, menyiapkan kegiatan, mempraktekkan, dan menuliskan kegiatan bersama anak.
.
.

Sambil mengkoreksi kembali checklist saya di NHW#2, apakah sudah masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas? Belum.
Saatnya melakukan EVALUASI.
Indikator yang saya tambahkan dalam Checklist Profesionalisme Perempuan sebagai Individu adalah :
• Mengaji min. 1 lembar / hari
• Mendedikasikan waktu  6 jam / hari (mencari ilmu, menyiapkan kegiatan, mempraktekkan, dan menuliskan kegiatan bersama anak)

JUST DO IT
Lakukan.. lakukan.. lakukan.. !!!
Semoga Allah memberikan pemahaan yang baik 😊

Salam Ibu Profesional,
Nafsa Karima

Jumat, 10 Februari 2017

Tentang Kami


Bismillahirrahmanirrahim

Rasanya NHW#3 kali ini membuat perasaan mengalir begitu saja. Apa lagi ditambah Bandung yang diguyur hujan. Jadi semakin baper. Hehe.. tapi jadi semakin semangat.
Menuliskan surat cinta. Mas, saya ingin jatuh cinta terus padamu. Terus.. terus.. dan terus. Berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama, Suamiku.



Yes. Surat cinta sudah dibaca. Dan memang sudah tertebak hasilnya. Hehehe
Cerita sedikit ya, jalan 3 tahun kami menikah rasanya saya baru 2 kali melihat dengan jelas perubahan emosi suami. Pertama saat ijab kabul dan kedua saat saya akan melahirkan Kareem. Gugup.
Selebihnya, mungkin emosinya berubah-ubah, hanya saja suami saya lebih pintar menyembunyikannya. Tidak seperti saya yang lebih moody.

Selesai shalat subuh, saya katakan padanya, ada sesuatu yang ingin mas aziz baca. Saya berikan suratnya. Kondisi kamar agak gelap. Beberapa kali beliau menyeritkan alis. Selesai baca. Diam sejenak.
"Gimana menurut mas aziz?"
"Ya gak gimana-gimana. Memang maunya gimana?" Katanya sambil terkekeh.

Aaiiihhhh.. rasanya pengen nutup muka pake bantal.

Dan akhirnya suami berkata, "Makasih ya" katanya lagi. Hug n kiss.

Saya tanyakan padanya, mengapa tadi beberapa kali menyeritkan alis? Supaya lebih fokus bacanya katanya.
Apa karena kondisi Bandung yang sedang dingin atau karena hal lain, suami terlihat menyeka hidungnya. Sayang kamar gelap, jadi ekspresinya ga bisa terlihat jelas.

Hahaha.. mas, kita ga cocok roromantisan gitu? Hehe. Memang maunya chaca kaya gimana? Pasti ujungnya suami nanya gitu :D

Saya senang sekali bisa menuliskan surat cinta untuk suami dan masih diberikan kesempatan suami untuk membacanya. Sudah lama ingin menulis surat cinta, sejak setelah menikah. Mas Aziz harus tahu, jika saya bangga :)
.
.

Kareem Muhammad Athalla.
Semoga Allah anugerahi kemuliaan dan akhlak yang terpuji.
Nak, ketika engkau lahir kami mempajari 1 hal. Allah memperlihatkan kuasaNya pada kami. Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Kami sebagai orang tua yang diberi amanahmu, kadang masih kurang bersyukur..

Suatu ketika saat perjalanan ke rumah Nenek, Daddy mu pernah tanya sama Mommy. "Ingin Kareem jadi seperti apa?" Mommy bingung.
Pertama, menjadi apa itu arahnya kemana? Profesikah?
Yang kedua, Kareem masih 13 bulan, belum terlihat minat bakatnya ke arah mana.
Mommy utarakan hal ini pada Daddy.

Nak, kalau Kareem sudah besar Kareem ingin jadi apa?
Jadi apa saja boleh Nak.. asalkan Kareem selalu ingat sama Allah.

Semoga kami sebagi orang tua bisa terus mendukung Kareem sesuai minat bakatmu ya Nak..
Semoga hidupmu penuh berkah Nak.. dan juga bermanfaat untuk orang banyak.
Kareem soleh ya Nak dan kasih inspirasi untuk banyak orang.

Kareem harus tahu. Mommy selalu bangga sama Kareem..

Nak, mommy belajar untuk tidak membandingkan mulai dari Kareem lahir. Entah untuk apa pun itu. Berat badan, kemampuan, sikap, atau apa pun. Membandingkan kadang membuat kita kurang bersyukur sayang. Apa lagi jika membandingkan kelebihan orang lain dengan  kekurangan kita.
Terbesit perasaan membandingkan pernah Nak, apa lagi jika Kareem lebih unggul. Kembali Mommy ingatkan diri, setiap anak unik dengan caranya masing-masing. Setiap anak punya kelebihannya masing-masing :)

Boleh Mommy cerita sedikit?
Teman Kareem usia 13 bulan sudah bisa makan nasi. Kareem belum.
Kareem usia 13 bulan sudah bisa lari. Temannya belum.
Nah, lihat kan? Setiap anak punya kelebihan masing-masing sayang.

Saat dewasa nanti Kareem harus bangga dengan sendiri, yang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Diri Kareem sudah Allah ciptakan sangat sempurna. Fokus dan kembangkan kelebihan dan terima dengan ikhlas kekurangannya ya Nak.

Semoga kami bisa terus membersamai Kareem hingga Kareem dewasa.. aamiin
.
.

Saya, istinya Bapak Aziz, Ibu dari Kareem. Saya Nafsa Karima

Dunia anak-anak selalu menarik perhatian saya. Bianar mata mereka saat mereka tertarik pada sesuatu. Tawa riang mereka. Bahkan air mata mereka yang membuat hati perih. Hari-hari bersama anak-anak yang dilalui penuh dengan kejutan.
Saya ingin belajar lebih banyak tentang anak, tentang parenting, tentang pendidikan anak usia dini, tentang metode montessori, dan lainnya. Saya ingin bisa mengamalkan ilmu yang saya miliki, untuk saat ini untuk anak sendiri dan untuk sepupu juga teman dekat kami. Saya ingin banyak berbagi dan sedikitnya memberikan inspirasi. Ketika Kareem sudah lebih dewasa saya ingin banyak berbagi untuk orang tua dan anak-anak lainnya. Semoga hal ini menjadi salah satu amal jariyah untuk saya..
.
.

Lingkungan kami tinggal

Mengetahui peran spesifik keluarga.
Ko rasanya selalu bikin merinding ya. MasyaAllah, diingatkan dengan kata-kata di film 5 cm, agar hidup tidak cuma jadi seoongok daging yang bisa jalan, bisa bicara, dan punya nama. Agar hidup gak gitu gitu aja. Dan agar hidup bermakna serta punya arti. Huhuhu.. nangis nih.

Mengetahui peran spesifik kita diciptakan di muka bumi ini.
Rasanya makin merinding. Allah berfirman dalam surat cintanya, "Tidaklah kami ciptakan sesuatu di muka bumi ini dengan sia-sia".
MasyaAllah. Rasanya jadi tambah nangis. Allah, kadang saya tidak tahu untuk apa Allah ciptakan saya, untuk apa Allah ciptakan kami.. kenapa kami ada disini? Kenapa kami ada di keluarga ini? Kenapa keluarga kami ada di lingkungan ini?

Semua pasti ada hikmahnya, semua ada maksudnya. Hanya kitanya saja yang belum mengerti. Kita belum paham maksud Allah. Sungguh, tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang Allah ciptakan sia-sia.
Dan saat ini, saya sedang belajar menangkap maksud-Mu Ya Rabb ku Yang Maha Baik. Saya sedang mencoba mengambil hikmah atas setiap kejadian yang Engkau tetapkan pada kami Ya Allah Yang Maha Penyayang.

Kondisi keseharian keluarga dan lingkungan saya dan suami agak berbeda. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Di sini mungkin kami diminta mengambil yang baik dan merubah yang kurang baiknya. Dan menerapkan kebaikan untuk keluarga kecil kami dan lingkungan sekitar kami.

Melihat dari lingkungan sekitar kami, saya mengambil kesimpulan bahwa belajar bisa dari mana saja (tidak harus sekolah formal) tetapi sekolah yang tinggi (kuliah) itu bisa membuat pola pikir kita lebih terarah dan sistematis.

Dari segi emosi, marah yang bijak itu baik. Marah yang tidak dilakukan di depan banyak orang. Marah yang tidak dilakukan dengan menyakiti hati dan fisik. Marah, masih boleh dilakukan dengan tujuan untuk kebaikan dan dilakukan dengan cara yang baik pula. Semoga kita bisa selalu mengingatkan dalam kebaikan.

Membereskan rumah bukan hanya tentang pekerjaan perempuan atau takut memberatkan anak atau jika anak membantu malah jadi dua kali kerja. Sesungguhnya banyak hal yang bisa dipelajari saat membereskan rumah. Kemandirian, tanggung jawab, dan ketelitian. Mungkin saat ini kami bisa mengingatkan antar anggota keluarga dan melakukan pembagian tugas. Saat Kareem sudah lebih besar bisa diajak berkegiatan bersama sekaligus membereskan rumah.

Di keluarga kami ada yang gemar menonton sinetron india A*TV. Suami atau bapak sering mengganti channel TV saat kami ada disana. Jika hal itu terjadi, lain kali mungkin saya bisa meminta "Cari film anak-anak aja" meskipun sehari-hari di rumah kami tidak menyalakan TV. Dan kedepannya semoga bisa memberikan pengertian yang lebih baik, bahwa Kareem tidak menonton TV saat masa golden age ini.

Tantangan terbesar mungkin adalah bagaimana kami bisa konsisten dengan aturan keluarga saat Kareem bersama sepupunya atau saat Kareem keluar 'rumah'. Juga bagaimana cara kami untuk tidak mengenalkan Kareem dengan action figure (batman, superman, spiderman, ironman, ultraman.. dan man-temannya) dan tidak menonton DVD nya juga.

Allah mungkin menghadirkan keluarga kami di lingkungan ini untuk bisa memberikan pengertian dan pemahaman yang lebih baik.
Semoga keluarga kami bisa memberikan pengertian dan pemahaman yang baik tanpa kesan menggurui dan merasa lebih baik.
Aamiin

Salam,
Ibu Profesional

Nafsa Karima
NHW3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Kamis, 09 Februari 2017

#3 Peradaban dari Dalam Rumah

Bismillahirrahmanirrahim

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung 1
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Resume Materi Sesi #3
PERADABAN DARI DALAM RUMAH
Selasa, 7 Februari 2016

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah
Ketua Kelas : Derini Handayani
Koord. Mingguan : Nurita Azizah Rachman
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch#3 Sesi #3



πŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘¦πŸ‘¦MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAHπŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘§πŸ‘§

“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?


πŸ™‹ PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK


πŸ‘¨πŸ‘©πŸ‘§πŸ‘§ NIKAH

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

πŸ€Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

πŸ€Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

πŸ€Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

πŸ€Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.


πŸ‘©πŸ‘§πŸ‘§ ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.


Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.

Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.


Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

https://www.youtube.com/watch?v=kwM9PDoRQRk&feature=youtu.be

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
*```RESUME TANYA-JAWAB SESIi#3```*

Pertanyaan 1.
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Saya yakin dengan awal pernyataan itu, tapi bukankah kita juga harus berusaha melihat peluang? Karena ada juga ibu yang terlalu fokus dengan urusan 'rumah' sehingga menggantungkan segala sesuatu kepada suami. Saya juga yakin ibu yg punya segudang aktifitas ataupun mampu berpenghasilan, bisa melihat peluang di depan matanya.
Bagaimana pandangan teh Ismi dalam hal ini?
Jawaban:
Setelah mengalirkan rasa dan berpikir jernih, saya baru bisa menemukan jawaban versi saya.
Jadi kembalikan semua kepada niat, apa tugas utama kita di dunia, lalu jika ada peluang, untuk apa niat kita melakukannya. Lalu saya ingat cerita ibu waktu beliau juga nyambi ambil peluang berjualan, ternyata fokus membersamai tumbuh kembang anak, dan subhanallah sekarang bunda septi sedang menuai apa yang beliau tanam.
Lalu apa ketika kita ada peluang kita tidak boleh mengambilnya? Kembalikan lagi pada prinsip diri, keyakinan, dan niat. Jika kita yakin dan kita yakin kita akan bahagia silahkan ambil peluang itu.
Kembali lagi pada slogan bunda produktif..
Rezeki itu pasti, kemulian yang dicari
Be a profesional, and rezeki will follow ✅

Pertanyaan 2.
Ini sebenernya pertanyaan saya dari dulu, buat apa saya lahir di keluarga ini. Bertemu banyak orang yang menjadikan kepribadian saya seperti ini. Dapat suami dengan kelebihan dan kekurangan seperti ini, diamanahi anak. Sayang nya masih belum nemu jawabannya karena bingung harus mulai dari mana.
Kira2 saya harus mulai dari mana ya untuk mencari jawabannya. Karena saya ngerasa disemua bidang biasa2, saya tidak merasa ada yang spesial didiri saya. Terimakasih.
Jawaban:
Bagus banget sudah tau kelebihan dan kekurangan pasangan. Itu sudah step mengenali pasangan kita.
Mengenali diri bisa dicoba dengan hal ini :
* Aktivitas apa yang kita suka
* Aktivitas apa yang tidak kita suka
Fokus pada hal yang kita suka teh. Misal, saya tidak suka setrika, sekuat apapun saya mencoba, saya ga suka. Apa harus dipaksakan? tidak, saya fokus sama hal yang saya suka. Saya tidak pernah menyetrika, kecuali kepepet. Tetapi hal yang saya suka saya lakukan terus menerus.
Dari situ bisa terlihat apa kekurangan dan kelebihan kita ✅

Pertanyaan 3.
Saya kn baru menikah 4 bulan dan tdk mlalui proses pacaran, dmna sgala sesuatunya masih saling mengenali dan menyesuaikan..utk menggali rahasia/hikmah perjodohan dg suami jg rasanya masih dangkal dan butuh waktu,
Nah, kira-kira bagaimana memulai membangun peradaban dari rumah dg kondisi saya seperti ini ya?
Jawaban:
Pertama teteh harus bersyukur karena menikah tanpa melalui proses pacaran πŸ‘πŸ»
Untuk membangun peradaban, kita perlu saling mengenal teh, kenali pasangan kita perlahan. Temukan kelebihannya dan koneksikan dengan kelebihan kita. Ketika mulai menemukan kekurangan dan "koq dia gini ya" luruskan niat lagi karena Allah dan berusaha menerima "ternyata pasanganku begini"
Fokus pada kelebihan dan menerima kekurangan itu sangat enak. Mangga dicoba.✅

Pertanyaan 4.
Bagaimana cara menjaga anak dari lingkungan yang kurang baik? Mengingat pengaruh lingkungan terhadap laku anak sangat besar. Karena ada masanya anak banyak berkegiatan diluar rumah dan orang tua tidak bisa memantaunya 24 jam. (Jadi baper πŸ˜” hehe)
Jawaban:
Saya dan suami selalu berpegang teguh pada kata kata seorang ustazah "kita tidak bisa membendung informasi negatif dari luar, tetapi kita bisa menutup informasi negatif itu dengan informasi positif"
Jadi jangan pernah lelah membersamai anak-anak kita di rumah, karena basic pendidikan bukan diluar, bukan di sekolah, tetapi dari rumah✅

Pertanyaan 5.
Mau bertanya,, tp kayanya harus cerita dulu..πŸ˜‚
Saya seorang tenaga kesehatan, bekerja di klinik yg dikelola bareng sama komunitas pembelajar juga.. karena saya satu2nya dokter disana, akhirnya diamanahi menjadi penanggung jawab. Sebagian besar waktu dan tenaga saya digunakan untuk mengupayakan klinik terus bertumbuh dan bermanfaat untuk masyarakat. Alhamdulillah suami sangat mendukung dan berada dalam satu komunitas yg sama. Kita sepakat bahwa ini adalah peran peradaban kami,, bukan hanya saya, karena realitanya, suami dan anak selalu saya boyong ke klinik (Alhamdulillah suami freelance dan fleksibel secara waktu). Proses mendidik anak pun tak terpisahkan dr kegiatan saya menjalankan amanah ini. Tp seringkali saya merasa 'lalai' dgn tanggung jawab saya sebagai seorang istri dan ibu. D satu sisi saya meyakini ini adalah peran peradaban kami, di sisi lain, suka terpuruk dgn perasaan 'peran peradaban ibu adalah rumah, anak, dan keluarganya'. Pertanyaannya,,
1. apakah peran peradaban seorang ibu memang terbatas dalam rumah, anak, dan keluarga?
2. Saya sudah merenungi materi 2,, Bu Septi mengatakan kalo pijakan utamanya adalah bunda sayang dan bunda cekatan,, baru bunda produktif. Bagaimana jika peluang menjadi bunda produktif datang di saat kita belum 'ajeg' menjadi seorang bunda sayang dan bunda cekatan yg profesional? Apakah harus menunda peluang tersebut? Atau bagaimana mensiasatinya?
Jawaban:
a. Menurut saya peradaban seorang wanita tidak terbatas pada itu. Tetapi ibu adalah madrasah pertama anak itu memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Sadarilah ketika kita mendidik anak, kita sedang membangun peradaban. Ketika pijakan sebagai ibu, istri, rumah dan keluarga kuat, insyaAllah seorang wanita mampu bermanfaat untuk masyarakat. Sudah banyak contoh realita hidup orang orang sukses berawal dari pendidikan rumah.
b. Karena sudah memilih di ranah publik. Maka saran saya teh rizki :
- niatkan karena ibadah
- dokter adalah pekerjaan mulia
- kuatkan pijakan bunda sayang & bunda cekatan
- ajak suami bersama memanfaatkan waktu membersamai anak
Kuatkan dan disiplinkan masalah manajemen waktu untuk bunda bunda yang memilih ranah publik, karena untuk anak bukan waktu sisa tetapi waktu optimal. ✅

Pertanyaan 6.
1.Dalam tahapan pra nikah, bisakah kita menerapkannya saat kita sudah menikah? Terlambatkah? Apakah nanti jika diterapkan akan ada efek yg berbeda karena beda masanya?
2. Bagaimana kita menemukan keunikan positif dalam diri oleh kita sendiri? Karena saya merasa saya sendiri tidak punya kelebihan atau potensi yang menonjol dalam suatu hal dibandingkan teman yang lain.
Jawaban:
a. Tahapan pra nikah, ada tahapan berdamai dengan masa lalu teh. Banyak orang yang missed masalah ini, termasuk saya. Jadi ada baiknya kita mengingat kembali hal hal positif saat masa lalu kita dalam keluarga, memafkan masa lalu, memang akan sangat sulit, tetapi harus kita coba. Bisa juga bersama dengan pasangan saling tukar pengalaman.
b. InsyaAllah ada teh, tapi teteh belum menemukannya. Coba cek jawaban no.3 ya. Bagaimana mengenali kelebihan dan kekurangan diri ✅

Pertanyaan 7.
1. Suami saya memiliki pengalaman yang kurang baik saat di didik oleh orang tuanya sejak kecil, (diperlihatkan banyak pertengkaran, dicurhati segala masalah oleh ibunya dan tidak pernah dicontohkan bagaimana menyelesaikan masalah) sampai saat ini suami masih berhubungan sangat baik dgn orang tuanya, namun saat muncul masalah dgn org tuanya seakan-akan "monster terpendam" pada diri suami saya keluar lagi. Saya sudah mencoba utk menyarankan setiap masalah coba diutarakan penyelesaiannya dgn org tua, tapi hal itu mustahil menurut suami saya. Yg saya akan tanyakan, apakah mungkin "monster yg terpendam" ini bisa jadi muncul dalam mendidik anak anaknya? Jika iya apa solusi yang dapat saya lakukan ?
2. Jika saya masih berpindah pindah rumah kontrakan, apakah berpengaruh terhadap cara mendidik anak dari sisi lingkungannya ?
Jawaban:
dear teteh sholehah,
a. Iya teh pasti pengaruh positif dan negatif pengasuhan kita secara tidak sadar akan mempengaruhi cara kita mengasuh anak. Tetapi kalau kita sudah mengenali "masa lalu" kita, maka ada baiknya kita keluarkan. Jika memungkinkan untuk berkomunikasi baik baik dengan orangtua kita lebih maksimal lagi, jika tidak bisa maka suami butuh "ruang" untuk mengeluarkan inner child. Solusi yang pasti jangan pernah lelah membersamai pasangan memaafkan masa lalunya teh.
b. Menurut saya tidak, rumah pindah pindah tidak masalah, asal kita harus mencari lingkungan yang baik, tetangga yang baik, ramah anak. Ingat kata ibu, it takes a village to raise a children ✅

Pertanyaan 8.
pertanyaan saya untuk materi 3
1. Bagaimana kiatnya agar suami tertarik dan mau berpartisipasi dalam pengasuhan anak?
2. Bagaimana menyamakan frame dan cara mendidik anak agar selaras karena tidak jarang berbeda cara pengasuhan terhadap anak?
Hatur nuhun teh
Jawaban:
a. Perbanyaklah waktu dengan suami untuk membicara tentang parenting, meminta pendapatnya ttg masalah2 anak, menshare materi via japri, lalu lihat tanggapannya. Awal saya gabung iip, suami saya ga begitu tertarik, tetapi lama-lama mengakui πŸ˜„ lalu kita ambil prinsip yang sesuai dengan keluarga kita.
b. Nah ini teh butuh proses panjang, butuh perjuangan, tetapi komunikasi intinya. Banyak banyak ngobrol tentang anak kita dgn suami, bukan ngobrol yang lain. 😬 ✅

Pertanyaan 9.
Cara menyelesaikan 'masalah' masa lalu saat kita dididik oleh orang tua kita itu seperti apa ya? Apakah dengan kita ikhlas memaafkan atau dengan dikomunikasikan saat ini?
Jawaban:
Saya juga belum pengalaman komunikasikan dengan orangtua masalah masa lalu pengasuhan. Soalnya saya pikir, saya tidak mampu berkata kata dengan baik dan lembut. Jadi saya pun masih jatuh bangun, pertama adalah keluarkan, keluarkan apa yang teteh rasakan. Ketika sudah keluarkan masa lalu negatif, ingat ingat lagi teh masa lalu positif yang akhirnya membuat kita bisa berdamai dan memaafkan. Dan ketika sudah tau salah pengasuhan, semoga bisa menjadi warning untuk kita dalam mendidik anak.
Kalau tidak salah, ini disebut Inner child ya, automatic pilot parenting. Bisa dicari referensinya di fb Mas Supri. Maaf belum paham banyak πŸ™πŸ» ✅

Pertanyaan 10.
Assalamualaikum teh, mau bertanya yaa..
Materi yg luar biasa menggugah membentuk peradaban dengan diawali membentuk karakter anak. Nah jika saya msh berada di posisi blm memiliki keturunan teh, kira2 kesempatan apa yang bs saya benahi untuk membuat peradaban??
Hatur nuhun teh..
Jawaban:
Mungkin ini hal hal yang perlu disiapkan, siapa tau ketika sungguh2 maka Allah berikan keturunan di waktu yang tepat.
* Perbanyak ilmu mendidik anak, catat, kemudian arsipkan
* Perbanyak ilmu ttg kehamilan, persalinan, masalah2 ibu baru
* Perbanyak komunikasi dengan suami, lihat tanggapannya, lalu lihat misi apa yang diharapkan suami terhadap anak dan ibunya kelak.
Misal dulu suami bilang sebelum nikah, saya ingin anak-anak saya dipegang oleh istri saya sendiri. Eh ternyata benar, mungkin jadi doa, setelah melahirkan saya resign πŸ˜„
* Perbanyak ingat pengasuhan masa lalu, coba komunikasikan dengan pasangan, keluarkan, coba berdamai dan memaafkan. dicicil teh biar lega✅

Pertanyaan 11.
Bagaimana cara terbaik untuk menemukan "misi spesifik"? Apakah dengan trial and error cukup efektif?
Jazakillah, Teh πŸ™‚
Jawaban:
Saya juga tidak yakin apakah trial error efektif. Tetapi kita bisa belajar dari kesalahan dan memperbaikinya. Misi spesifik akan terbentuk, jika masing2 kita (suami istri) memiliki visi misi ke depan yang sama. jangan sampai masih pakeukeuh keukeuh sama prinsipnya masing masing. Memperbaiki komunikasi dengan pasangan bisa jadi awal yang bagus untuk memulai, saya pun masih belajar teh πŸ˜€πŸ’ͺ🏻 ✅

Pertanyaan 12.
sy dl didik dengan cara yang kurang bisa sy terima oleh ortu sy,, sy masih merasa sakit sampai skrng.. ada kah tips untuk mengilangkan rasa sakit kembali memaafkan ortu saya, dan kembali menghormati dengan tulus?..
sy pernah coba mengubah mindset sy dengan mengatakan bahwa yang terjadi dgn sy itu takdir..Allah punya tujuan agar sy lbh baik (krn saat itu sy masih kecil, secara fisik, mental sy belum mampu untuk melindungi diri sy bahkan untuk meminta pertolongan orang lain).
setelah diberi mindset seperti itu msh tetap terasa pengalamn dl,, (masih blm memaafkan)..
Jawaban:
ini memang susah dan butuh proses panjang. Tetapi paling tidak kita sudah mencoba menerima, terima dulu pengasuhan masa lalu kita.
Oh saya dulu dibeginikan, oh begini begitu...
Coba keluarkan teh, entah bagaimana nyamannya teteh. Ngobrol dengan suamikah, atau menulis di catatan terus sobek sobek ya teh karena aib. Lalu buka kembali foto foto bahagia kita di masa lalu, tidak mungkin kan semua negatif, pasti ada rasa itu, rasa positif, rasa bahagia. Alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan, mungkin kita akan bisa mencicil memaafkan masa lalu kita. Jangan lupa berdoa untuk orangtua kita teh, karena kita ingin semua berkumpul di surga.
Dan coba deh alirkan kebahagiaan masa lalu kita dengan anak anak, ga kerasa kita bisa memaafkan karena lihat respon anak anak kita.
Saya pernah, mencoba cerita kenangan positif saya ttg jalan jalan naik pesawat waktu kecil, ga kerasa lihat respon anak positif, eh saya jadi ingat orangtua, lalu ingat pasti orangtua kita berjuang banget demi mengajak jalan. Alirkan rasa teh😘✅

Pertanyaan 13.
Saya merupakan anak dari keluarga broken home, memang saya tidak pernah ikut2 menjadi nakal seperti pada umumnya, Alhamdulillah mungkin berkat doa ibu yang selalu mendoakan anak-anaknya.
Belakangan saya Baru bisa memahami akibat perceraian orang tua saya, terbelit masalah ekonomi Dan komunikasi yang bermasalah. Ayah saya tidak bekerja, lebih menyukai memancing. Saat itu (akibat stress) ibu kerja menjahit. Komunikasi tidak berjalan mulus, hingga mereka memutuskan pisah rumah terlebih dahulu. Ibu ikut ke rumah nenek, Dan ayah ikut adiknya. Akhirnya komunikasi mereka semakin sulit, pihak ayah mengira mereka sudah bercerai, namun ibu hanya ingin mereka berdua mengoreksi diri masing2. Pada akhirnya ayah menikah lagi. Dan ibulah yang merasa tersakiti.
Saat ini kondisi keluarga saya agak mirip, dalam kondisi suami tidak bekerja Dan komunikasi kurang lancar. Saya sering baper mengingat-ingat Masa lalu orang tua saya, "teladan" seorang Istri tidak saya dapatkan Saat perceraian itu ketika saya Masih berusaha 8tahun belum mengerti apa2 soal masalah orang tua.
Saya memiliki keinginan untuk merubah sejarah agar tidak terulang kembali.
Apakah dalam diri belum memaafkan ayah?karena Tidak mendapatkan sosok ayah selama ini?(cukup rumit jika diceritakan bisa panjang lebar πŸ˜„ )
Teh Ismi, bagaimana agar kita bisa merasa bangga pada suami dalam kondisi seperti ini?
Jawaban:
wallahu alam teh. Mungkin iya teteh belum bisa memaafkan. Karena merasa sudah merasa tersakiti, jadi belum bisa berdamai dengan masa lalu. Lagi lagi alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan teh derin... karena hal positif bisa membendung hal negatif. Memaafkan masa lalu memang susah... tapi kita harus coba. Tengok kembali ibu yang sudah berjuang, jadikan masalah sebagai pembelajaran.
Mengenai suami, kadang kadang pria tidak suka dinasehati, karena jiwanya pemimpin. Mungkin kita bisa memperbaiki komunikasi tentang apa yang diinginkan suami. Lalu sampaikan secara baik tentang fitrah pencari rezeki. Mungkin ada sesuatu yang belum tersalurkan dari pasangan teh, sehingga belum bisa menemukan pekerjaan yang cocok.
Bismillah, harus tetap bangga teh, kalau tidak bangga, bagaimana suami bisa percaya diri. 😘
Sampaikan kenangan positif beliau yang kita suka, yang membuat kita bahagia.✅

Pertanyaan 14.
Terkait dengan keluarga sebagai pondasi peradaban dan saya yakini pola pendidikan anak yang tepat termasuk kedalam poin penting dalam membangun pondasi tersebut. Setelah memahami pola pendidikan yang tepat utk anak dan setelah paham kurikulum yg tepat untuk anak, saya terganjal dengan kurikulum sekarang yg padat materi dan jelas tidak cocok utk anak saya yg cenderung lebih paham materi praktek dan olah tubuh.yg menjadi pertanyaan..
1.Apa yg harus dilakukan ketika ternyata anak cenderung lebih fokus pada kegiatan klub sepakbolanya daripada pelajarannya karena memang dia tidak cocok dengan kurikulum yg padat materi.
2.haruskah saya mencari sekolah dengan kurikulum yg tepat sesuai dengan kondisi anak yg cenderung kinestetik? Ataukah cukup seperti sekarang ini dia tetap sekolah di sekolah pada umumnya,namun saya barengi dengan klub sepakbola sesuai dengan minatnya.mengingat dia(anak) yg kurang minat terhadap pelajaran.
Jawaban:
saya belum pengalaman anak usia sekolah teh. πŸ™πŸ» khawatir tidak memberi solusi, saya skip dulu ya dan mencari referensi bacaan. ✅ πŸ“

Pertanyaan 15.
Bagaimana menurut teteh tentang menangis sebagai cara meluapkan emosi? Jujur untuk periode tertentu saya membutuhkannya, kadang ga bisa ketahan, walaupun sdah berusaha untuk tidak menangis sambil bilang sama diri sndiri "udah jangan nangis, ga ada gunanya", tapi kalau belum terluapkan rasanya aktifitas dn komunikasi terganggu. Kadang menangis ini berawal dr rasa kecewa baik pada diri sndiri maupun.suami, atau krn merasa sendiri, kadang juga karena kelelahan ingin curhat tapi suami sibuk dan saya bingung harus mulai drmana,
Apa solusi menurut pengalaman teteh pribadi Untuk mengatasi perasaan 2 negatif tersebut?
Adakah alternatif lain yg lebih efektif dan solutif dalam mengalirkan emosi selain menangis?
Jawaban:
wow teteh mengingatkan saya tentang nhw saya. Bagi saya menangis adalah efektif ketimbang marah. Anak saya 5y suka ingetin "janganlah marah bunda, maka bagimu surga" adem ya dengarnya?
Bagi tipikal orang ekstrovet, atau terbuka, akan sangat mudah menyampaikan emosinya. Kata orang ceplas ceplos. Berarti saya nebak mungkin teteh tipikal orang tertutup, tidak mudah mengungkapkan. Jadi saya pribadi, pengalamannya gini :
1. Anak tantrum, marah, dll, terima.
2. Komunikasikan.
3. Masih lanjut.
4. Diamkan.
5. Masih lanjut.
6. Pergi.
7. Dikejar
8. Menangis.
Cobain, menurut saya efektif. lain halnya kalau saya marah, ga efektif teh, yang ada dosa nambah, anak niru, terus anak jadi muka takut.
Dua hal ini saya masih jatuh bangun juga teh, tapi dicoba aja.
Setelah keluar dengan menangis, silahkan tarik nafas buang nafas. lalu peluk anak, komunikasikan dengan anak.
Kecewa dengan diri sendiri, apa yang bisa teteh lakukan?
1. Terima
2. Catat apa kesalahan
3. Menyesali dengan menangis, keluarkan
4. Setelah tenang coba berwudhu, shalat.
5. Curhatlah kepada Allah.
Marah pada pasangan? Saya sendiri suka sering diam, terus inginnya dimengerti. Ternyata itu tidak efektif loh. Malah nambah masalah baru.
Jadi saya coba :
1. Coba bilang
2. Tidak bisa bilang, diam sejenak tinggalkan pasangan
3. Setelah itu teteh bisa catat
4. Silahkan menangis
5. Setelah tenang kasih ke suami
6. Mau menangis lagi silahkan
7. Dengarkan penjelasan suami
8. Terima
9. Maafkan
Jangan lupa peluk suami ☺
Dicoba ya teh✅

Pertanyaan 16.
MasyaAllah.luar biasa ilmu2 nya😍 #jleeebbgtttt 😒 makin semangat bebenah diriπŸ’ͺπŸ’ͺ Ada pertanyaan nih teh setelah mendalami utube nya..
1. Dulu sy suami tdk byk melihat masa lalu,khususnya ttg pola pendidikan ortu pd diri kami msg2 (ilmu nya kurang banyak nih sblm kd ortu hehe).Bgmn ya teh berdamai masa lalu dg kondisi kami yg "telat menyadari hal ini"?Prakteknya susah..jd secara tdk sengaja muncul lah ke anak..kl k ortu berusaha memaklum.krn byk nya jasa mrk..
2. Mendidik anak dg fitrah yg diberikan Allah. Dan bkn mendidiknya spt yg qt mau..
Fitrah2 apa saja ya yg perlu dijaga sampai dia dewasa nanti?krn lingkungan jaman skrg yg qt tau banyak sekali tantangannya..
jazakillah..
Jawaban:
Memang prakteknya susah berdamai dengan masa lalu. tetapi harus dicoba, hanya dengan menerima, memaafkan, dan menjadikan sebagai pembelajaran
b. bisa cari lebih lengkap di pendidikan berbasis fitrah oleh ust.harry.
- fitrah iman
- fitrah belajar
- fitrah cinta
- fitrah fisik
- fitrah bahasa
- fitrah perkembangan
- fitrah bakat
- fitrah individu & sosialitas✅

Pertanyaan 17.
Ketika saya dan suami sudh menemukan misi spesipik keluarga, bagai mana saya mengajak anak untuk bisa d ajak kerja sama sedangkan sya masih tinggal denga keluarga sya yg kebanyakan tidak sepaham dengan saya.
Jawaban:
Saya kebetulan tidak punya pengalaman. Tetapi saya ingat cerita Ibu, waktu beliau tinggal bersama keluarga. Jadi bikin space. Ini wilayah kekuasaan kita misal kamar, jadi prinsipnya apapun yang berlaku diluar, di kamar aturan kita yang berlaku. Semoga saya ga salah memahami cerita ibu 😬
Sama sih intinya, yang penting kuatkan pondasi keluarga kita. saya pun tidak tinggal serumah, tetapi kalau dibawa ke rumah keluarga prinsipnya bertabrakan semua, tetapi anak anak tidak serta merta ngikutin, kepengaruh mah iya, namanya anak-anak, tapi kita tak boleh pernah lelah. tetapi anak anak itu kritis hanya ingin tau kenapa loh.
Saya kasih contoh simple ya semoga bermanfaat.
Di keluarga kami, jarang beli mainan, harus nabung dulu, atau bikin aja mainan. Lalu dia terkaget2 dengan sepupunya yang tiap minggu dibelikan mainan. Dia cuma tanya kenapa, tapi karena kita terus2an kasih informasi positif, alhamdulillah tidak terpengaruh, merajuk... kritis sering, tetapi alhamdulillah sampai saat ini aman aman saja πŸ˜„

Referensi jawaban Ibu untuk bunda produktif :
Bunda, saya dulu juga mendapatkan pesan yg sama ketika masih gadis
Ibu saya single parent sejak saya usia 8 th.
Sehingga ibu selalu berpesan "harus jadi perempuan mandiri, berpenghasilan, tidak bergantung pada suami"
Mindset terbangun, tetapi di satu sisi saya selalu terngiang-ngiang masa kecil saya, sedih banget ketika pulang sekolah, ingin banget curhat dg ibu, tapi harus nunggu malam, karena ibu baru pulang kerja dan kuliah malam hari.
Akhirnya hal itulah yg memicu saya bahwa saya harus mandiri finansial tanpa harus meninggalkan anak-anak saya.
Maka sebisa mungkin sebelum anak-anak memasuki usia 12 th. Ajaklah selalu bersama ibu atau ayahnya. Libatkan mereka, sehingga kebutuhan kasih sayang terhadap kehadiran diri kita terpenuhi.
Apalagi kalau kita buka usaha sendiri, pasti kita bisa mengaturnya.
Kalau harus bekerja dengan org lain, maka didiklah asisten rumah tangga yg bisa mendampingi anak dengan baik, dengan segala konsekuensi yg akan bunda terima.

Referensi jawaban ibu pertanyaan dengan berdamai masa lalu :
datanglah ke orangtua anda apabila masih ada, peluk beliau berdua, sebagai visualisasi bahwa kita benar-benar sdh menerima segala kondisi masa lalu.
Seringlah berbuat baik untuk mereka, untuk mengganti rasa sakit/dendam masa lalu yg pernah ada.
Kemudian hindari masa-masa dimana kita dalam posisi marah yg memuncak ke anak.
Karena kalau kita belum selesai dg masa lalu, dalam kondisi tertekan, pasti kita akan melakukan perbuatan yg pernah dilakukan orangtua kita ke kita jaman kecil dulu, meskipun diri kita sendiri sangat tidak menyukainya.
Maka ujilah, kalau dalam kondisi tertekan kita bisa mengendalikan diri kita, insya Allah masa lalu sudah bisa kita terima dengan baik.

Referensi jawaban ibu ttg yang masih tinggal bersama mertua/orangtua :
kunci utama ketika kita masih jadi satu dengan orangtua adalah komunikasi
Libatkan orangtua/mertua menjadi satu team dg kita, berikan mereka peran khusus yg bisa dikerjakan.
Kemudian bicarakan dengan suami, bahwa ring 1 yg harus kita bangun adalah keluarga inti plus ortu kita.
Makin kreatif dg solusi, mbak akan makin menemukan peran peradaban mbak di muka bumi ini.

Bandung, 9 Februari 2017

Dari group WA MIP batch #3 Bandung 1
Nafsa Karima


Demi kenyamanan, mohon izin untuk nama penanya tidak saya cantumkan :)

Minggu, 05 Februari 2017

NHW2 Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Bismillahirrahmanirrahim

Tugas minggu ini adalah...

“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
- SPECIFIK (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Yes. Membuat checklist indikator. Tidak pernah kepikiran sebelummya bikin chekcklist. Bismillah, supaya keseharian gak gitu gini aja dan supaya keseharian lebih terarah. Apa yang harus dikerjakan, apa yang jadi prioritas, dan mengapa masih ada yang belum dilakukan..
Ayo semangaattt!!

Copy paste tugas NHW#2 ke whats app daddy. "Mas, cha ada tugas", tolong dibantu ya Mas.. :)
Jawaban suami adalah..  eng ing eng... 4 poin yang menjadi sorotan suami.
1. Sholat tepat waktu dan rutin tilawah Quran
2. Suka Berolahraga
3. Hidup Sederhana
4. Menuntut ilmu

Menurut saya keempatnya masuk dalam profesionalisme perempuan sebagai individu. Memang akan berdampak pula pada suami, karena suami bertanggung jawab atas saya.

Mas, mungkin saya akan berkali-kali bilang bahwa saya senang sekali ikut kelas matrikulasi ini :)
Yuk kita mulai checklistnya..

1. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Individu

Hal utama yang masuk checklist adalah ibadah. Bismillah, memperbaiki hubungan dengan Allah. Beberapa kali sering terbesit dalam pikiran saya, mulai besok saya mau rutin shalat dhuha lagi. Besoknya? Saya lupa atau dibesok-besokin lagi. Atau ibadah lainnya yang saya besok-besokin lagi dan jadi malah tak terlaksana.
Semoga Allah mudahkan jalan kita agar menjadi pribadi yang lebih baik ya..
Selain ibadah, menuntut ilmu juga masuk ke checklist ini. Saya masukan membaca artikel bermanfaat, kenapa? Supaya kalau buka FB gak asal buka aja atau asal share tulisan aja :)



2. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Istri

Alhamdulillah, jalan 2 tahun pernikahan kami. Dan selama ini kami LDM (long distance marriage). Suami kerja di Jakarta, saya dan Kareem di Bandung. Masih tinggal di rumah orang tua saya, Eyang Kareem. Mungkin banyak hal yang belum bisa kami lakukan bersama dan masih ada kewajiban saya sebagai istri yang tidak dapat saya lakukan setiap hari. Semoga, waktu-waktu yang kita lalui bersama berkah dan berkualitas ya mas..



3. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Ibu

Alhamdulillah, amanah kami seorang putra. Kareem (13 bulan). Kareem mulai pinter dan sudah bisa protes. Yang ingin saya lakukan untuk Kareem tapi belum jadi-jadi adalah membuat agenda kegiatan Kareem. Memang masih 13 bulan. Tapi biar saya terbiasa dan sekalian latihan membuat agenda kegiatan, jika nanti kami home schooling. Agenda kegiatan disini adalah bermain ya.. hehe karena belajarnya anak lewat bermain. Dengan agenda ini sebetulnya akan banyak manfaatnya, kita tahu aspek apa saja sesuai usia anak yang harus distimulasi dan agar bermain di rumah gak main itu ini aja.
Bijak menggunakan HP masih menjadi PR saya selama di dekat Kareem.


Semoga saya bisa istiqamah..

Salam Ibu Profesional
Bandung, 5 Februari 2017

Nafsa Karima

Jumat, 03 Februari 2017

#2 Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

Bismillahirrahmanirrahim

KELAS MATRIKULASI BATCH 3

INSTITUT IBU PROFESIONAL – _Bandung 1_*

 

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

 

*```Resume Materi Sesi #2```*

 

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Selasa, 31 Januari 2017

 

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah

Ketua Kelas : Derini Handayani

Koord. Mingguan : Ziyana Nur Hida

 

_Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional_

 

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #3? Pekan ini kita akan belajar bersama 
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; 
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang : 

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.


BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka. 

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015
https://youtu.be/hmLVcXK658Y

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

 

*```Resume Tanya Jawab Sesi #2```*

 

Pertanyaan 1.  Teh Gina Mardiati

Bagaimana memaksimalkan peran kita menjadi ibu profesional? 
sedangkan saya masih bekerja di ranah publik (rumah sakit dng pola kerja 3 shift) Saya memang sudah memiliki niat untuk resign. Tapi, terlalu banyak kekhawatiran saya. Misal, finansial, psikis saya setelah resign, memberi pengertian kepada keluarga, dll..

Jawaban :

 Di ibu profesional semua ibu adalah bekerja. ada yang bekerja di ranah publik dan domestik. jika teteh akan memutuskan resign, dan memilih bekerja di ranah domestik, maka yakinlah kunci rezeki itu baik satu maupun dua pintu hasilnya tetap sama. dan mulai petakan tantangan apa saja yg akan dihadapi beserta langkah menghadapinya. jika niat kita kuat dan yakin, insyaAllah jalannya akan terbuka ✅
jawaban tambahan:
karena sejatinya semua ibu adalah bekerja. ibu bekerja ranah publik harus punya energi double garda, jangan sampai dirumah mendapat sisa2. maka anggaplah sedang bermain peran, ketika pulanh ke rumah, ini stage baru, segera mandi menyegarkan diri dan bersiap bermain bersama anak, mendengarkan ceritanya, dst ✅


Pertanyaan 2.  Prita Annisa Utami

Masa emas anak adalah 0-3 tahun. Dimana kita harus mengerahkan 'segalanya' untuk anak, full untuk anak. Juga berkaitan dengan empat hal yg dimiliki anak, kalau ada yang menurun kualitasnya, maka letak kesalahannya ada pada ibunya, yang tentu saja membersamainya.

Lalu bagaimana kalau kita merasa kurang full, sedangkan anak sudah lewat usia 3 tahun misalnya. Adakah cara untuk memperbaiki masa emasnya?

Jawaban :

 Pertama, jangan menyalahkan diri sendiri. kaca spion untuk dilihat sesekali bukan selalu dipandangi. tentu bisa teteh insyaAllah, karena sejatinya golden age itu adalah seumur hidup kita. buktinya teteh ada di matrikulasi ini  hak kita adalah berubah dan hak Allah adalah mengubah. tidak ada kata terlambat jika kita memulainya dengan langkah pertama ✅


Pertanyaan 3.  Teh Andam 

Indikator keberhasilan Ibu Professional adalah menjadi kebanggaan keluarga. Jika berkenaan dengan tahapan bunda sayang, bagaimana agar kita mampu membuat komunikasi yang produktif terhadap anak anak sehingga dalam interaksi ibu dan anak setiap harinya dapat berjalan harmonis sesuai apa yang menjadi tujuan?

Jawaban :

Lebih lengkapnya nanti ada di materi bunda sayang komunikasi produktif setelah matrikulasi. ada tantangan 10harinya juga lho.. kuncinya: harus satu level dengan anak.
for Teh things to change i must change first. dan i'm responsible for my communication result ✅


Pertanyaan 4.  Teh Nopi Rahmawati

Setelah membaca materi 2 ini, dan sy reviewe ttg NHW1 sy, kok sepertinya sy langsung loncat ke tahapan 3 (bunda produktif). Apakah mungkin tahapannya bisa diloncati? Atau sy harus fokus ke tahapan bunda sayang dl? Dan apakah berarti sy harus merubah NHW1 sy, sehingga berkaitan dg tahapan bunda sayang?Mohon pencerahannya ya tth, masih bingung krn tugas NHWnya pasti saling berkaitan.

Jawaban :

Pijakan awal di ibu profesional memang menguatkan bunda sayang, ilmu dasar mendidik anak, agar nanti saat waktunya kita produktif, anak tdk keteteran.. apakah harus mengubah nhw 1? simak terus materi dan nhw selanjutnya yaa..

prinsipnya apapun yang menjadi ranah suka-bisa / passion kita, tetap libatkan anak didalamnya.✅


Pertanyaan 5. Dea Fadhila

1. Tahapan menjadi ibu profesional itu bunda sayang, bunda cekatan, bunda profesional kemudian bunda solehah.. Teh wiwik yang mau saya tanyakan tahapan tersebut haruskah berurutan untuk mendapatkan hasil maksimal di universitas kehidupan ini? 
2. Apabila keadaan dirumah baru diamanahi suami yang harus di urus, bolehkah loncat ke bunda cekatan lalu bunda produktif teh? 

Jawaban :

Dear teh Dea, tahapan ini adalah proses perjalanan ibu septi. ibu sudah membuktikan, bahwa bersungguh-sungguh mendidik anak, cekatan didalam rumah maka rezeki itu / produktif menghampiri, selanjutnya ibu berbagi ilmu tersebut sehingga mjd bunda shaleha (bermanfaat). saya sendiri masih jatuh bangun mengaplikasikan bun-bun itu, tapi yang saya rasakan tahapan itu memang sejalan, sekarang saya bisa produktif hanya karena ingin memenuhi kebutuhan anak-anak saya dengan lahirnya @temanmain.bdg dan playdate@homesweethome.

bagi yang belum memiliki anak, memang bisa loncat ke bunda cekatan dst.✅


Pertanyaan 6. Teh Witri Khotimah

1. Bagi sebagian masyarakat umum, ibu yang dipandang hebat adalah ibu yg bisa mengurus rumah tangga dan sukses dalam karirnya. Lalu bagaimana kita menyikapi pemikiran2 tersebut dimana terkadang menjadi irt dipandang sebelah mata dan kurang dihargai?

2. Dalam menjadi ibu profesional, haruskah kita melewati 4 tahap tsb secara berurutan? Bagaimana jika tidak dilakukan secara berurutan, apakah bisa? adakah pengaruhnya?

Jawaban :

Dear teh witri, utk no.1 afirmasikan: cancel cancel go away.. fokus menjadi ibu kebanggaan keluarga..berikan penghargaan kepada diri sendiri. karena kita tdk perlu penghargaan dan pandangan orang lain, cukup anak dan suami yang menjadi indikator kesuksesan kita ✅
no.2 lihat jwban sebelumnya.


Pertanyaan 7.  Teh Nafsa Karima

1. Ada 4 tahapan menjadi ibu profesional (bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, bunda soleha) disebutkan bahwa disetiap tahap ada ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu. Nah apakah ilmu-ilmu dalam setiap tahapan tersebut akan kami pelajari di kelas matrikulasi ini?

2. Setelah lulus dari kelas matrikulasi ini (aamiin) apakah kami akan naik tingkat menjadi bunda sayang? Dan adakah program seperti kulwap ini di bunda sayang? Seperti itu hingga akhirnya sampai di bunda soleha?

Jawaban :

Dear teh nafsa, betul sekali setelah lulus matrikulasi kita akan belajar di kelas bunda sayang. 12 materi mendidik anak akan dipelajari selama 12 bulan. kemudian lanjut bunda cekatan ada 12 materi manajemen rumah dalam 12 bulan juga, dst. sehingga total lama belajar di iip ini adalah 4 tahun sampai ke bunda shaleha.

dan tiap bulan akan ada tantangan 10hari. bagi yang sudah lulus matrikulasi insyaAllah lebih ringan, karena sudah terujj komitmen dan konsistensinya. 

r u ready? ✅
Pertanyaan 8.  Teh Nurita

Saat ini, saya ibu rumah tangga dengan 2 putra berusia 4 dan 5,5 thn. Dalam rencana jangka panjang saya (10 tahun kedepan), saya ingin produktif di satu bidang yg saat ini sedang saya minati. 
Awalnya, saya ingin meluangkan waktu untuk mencicil belajar/ memperkaya referensi bidang tsb. Tapi, setelah mempelajari materi #2, ternyata saat ini anak saya masih berada dalam tahapan usia yg memerlukan perhatian saya secara penuh.
Apakah artinya saya 'cut' dulu mempelajari bidang tersebut, atau lanjut saja selama itu tdk mengganggu dalam memberi perhatian pada anak?

Jawaban :

 Dear teh nurita, prinsipnya adalah manajemen waktu dan sebisa mungkin libatkan anak dalam prosesnya jika memungkinkan.

ada cerita menarik tth seorang ibu yang passionnya adalah mencuci dan menyetrika tapi tdk passion mendidik anak. beliau tetap melibatkan anak-anak selama proses tsb. hasilnya ibu ini menjadi juragan laundry, dan anak-anaknya tau betul bagaimana industri bisnis laundry dari hulu ke hilirnya ✅


Pertanyaan 9.  Teh Vita Puspita Sari

1.Saya bekerja 8jam perhari saya masih kurang pd bisa jd ibu prof sembari bekerja.. apakah menjadi ibu prof wajib untuk stay @home??
2.Menurut video td katanya pembentukan karakter sampai dgn 12 thn.. gimana dgn jika seorang anak usia 20 thn menjadi anak yg agak nyeleneh dy sering berbohong.. tp kan udh terbentuk karakternya.. apa masih bisa diperbaiki oleh orang tua nya??

Jawaban :

Dear teh vita, di ibu profesional sejatinya semua ibu bekerja, ada yang di ranah publik maupun domestik. tentu semua bisa menjadi ibu profesional ~ yang bersungguh-sungguh mendidik diri, anak dan keluarganya.

2. anak yang sudah aqil baligh, berarti memiliki kewajiban syariat yang sama dgn kita, maka statusnya adalah rekan. jika ada kesalahan yang pernah kita perbuat, minta maaflah, dan bicara dari hati ke hati, karena mereka bukan anak-anak lg.✅

Pertanyaan 10.Teh Rani Anggraeni

Pertama disebutkan d utube td ttg dunia anak itu bermain. Bermain dg gembira.Terkadang,dikegiatan bermain sy&anak terasa hambar..sy merasa tdk seluwes guru paud yg pandai mengondisikan anak..misal humoris dll.Sy cb evaluasi diri,bs jd krn perasaan/pikiran diri sy yg tdk bebas.msal krn ad pekerjaan lain yg "mengganggu" atau misal merasa ada perasaan semacam inner child,masa lalu dg keluarga yg sy ingat sy jarang diajak bermain bersama sprt sy ke anak sekarang(maklum sy anak pertama dg ortu pekerja yg pny banyak adik hehe&sy jg tau dulu ilmu parenting tdk sederas jaman skr).bagaimana mengatasi perasaan2 tsb?jazakillah.. :)

Jawaban :

Dear teh rani, kita pernah menjadi anak-anak, dan anak-anak memang suka bermain. kalau saya, saya hadirkan si playfull inner child, dgn mengatakan wi yuk main, ada teman..dan saat bermain itulah kita satu level dengan anak. saat itulah bonding dan moTehr trust terbntuk. teh rani sudah luar biasa, dgn pengalaman yg tdk enak, tapi tetap memberikan yg terbaik utk anak ✅


Pertanyaan 11.  Teh Yola Widya

Bismillah terkait dengan ibu sebagai agen of change, bagaimana caranya menyamakan persepsi dengan pasangan agar tercapai keselarasan yg diinginkan dalam membawa perubahan dalam keluarga. Sehingga jangan sampai timbul prasangka pada pasangan terkesan kita (istri) ingin menggurui beliau. Juga agar anak mau bekerjasama dengan orangtuanya dalam menjalani visi dan misi agent of change tersebut. Seperti yg diketahui anak sekarang selalu merasa aku lebih tahu aku lebih pintar dari orang tuaku

Jawaban :

 Dear teh yola, komunikasi dengan pasangan lengkapnya ada di bunsay. kalo saya pribadi, ke suami itu harus acceptance/ikhlas dulu baru bisa berkomunikasi. kalau belum accept beliau, biasanya salah satu akan ngotot.

nah,setelah acceptance untuk memulainya, gunakan Teh power of question supaya beliau ga merasa digurui.

Pertanyaan 12. Teh Dian

1. Disebutkan di video ibu Septi bahwa bahwa golden age anak 0-3 tahun, materi apa yang sebaiknya sdh kita tanamkan agar mendapat ke 4 poin meningkat?

2. Dalam fitrahnya anak itu pembelajar.. bagaimana agar anak itu sampai besar senang belajar? Seperti yg diketahuj ketika masih balita, anak2 memang cenderung ingin tahu, tapi ketika mulai masuk sekolah anak cenderung malas belajar.. 

3. Kemandirian anak sebaiknya dididik dari usia brp ya teh? Apakah sleep training sbg salah satu kemandirian itu perlu untuk usia 3 bln? Rumornya kalau anak nangis dicuekin akan menjadikan dia cuek jg.. saya masih maju mundur mau sleep training..

Jawaban :

 Dear teh Dian, 
1. usia golden age disini dalam artian perkembangan otak anak sedang dalam masa pesatnya. semua stimulasi motorik kasar, halus, bahasa, kemandirian, sosial yg diberikan inti nya adalah untuk menguatkan bonding dengan ortu. 

di keluarga ibu septi usia 0-7th adalah waktu menanamkan iman-adab-akhlak-bicara.

penanaman iman dengan berkisah, sedangkan adab-akhlak dan bicara hanya bisa DiTULARKAN

2. jika saat besar anak jadi malas belajar,mungkin ada fitrah yang terluka. seperti terlalu banyak dilarang, dilarang mencoba, dilarang bertanya, dll. atau ada tercerabut hak bermainnya atas nama "belajar" diminta les calistung sebelum 7th? atau gaya belajarnya yg tidak sesuai? atau dia hnya menyukai beberapa ilmu saja utk diplajari?

3. kemandirian bisa diajarkan sedini mungkin. dengan catt: si anak siap, ortunya juga siap dan sesuai dengan perkembangan usianya.

untuk sleep training, saya pernah mencoba pada anak kedua sejak dia new born. dan saya pribadi tdk merekomendasikan, karena komunikasi bayi adl menangis, dia perlu respon kita, dia membutuhkan kita sbg satu-satunya tempat mencari pertolongan. khawatir jika dibiarkan malah akan trauma, wallahualam ✅

Pertanyaan 13. Teh Ani Siti

Dalam pola asuh mendidik anak, sering kali terbawa apa yang telah dilakukan orang tua sewaktu kecil terhadap diri sendiri dan secara tidak langsung dilakukan pula pada anak.. padahal tau jika hal tersebut kurang baik, nah bagaimana cara mengontrol hal tersebut?
Makasi teh 

Jawaban :

Dear teh ani, dalam psikologi ini disebut autopilot parenting. good poinnya adalah sudah menyadari bahwa kita bertindak seperti orangtua kita. mengatasinya yaitu dengan: memaafkan kesalahan pengasuhan ortu, menerima ikhlas bahwa kita pernah mendapat perlakuan seperti itu. dan saat dipengaruhi kondisi autopilot, ambil jeda untuk menenangkan diri. karena tugas kita selain belajar ilmu pengasuhan juga memutus rantai pola pengasuhan dahulu yg tidak baik, supaya tdk diwariskan kembali ke anak-anak kita✅

Pertanyaan 14. Teh Nenih

1. Setelah tau bahwa saya blm menjadi ibu profesional hal apa yg paling penting saya perbaiki dulu terutama dalam pengasuhan anak?

2. Dalam banyak hal kadang ibu tidak mampu untuk meng ajar langsung pada anak, apakah saya sebagai ibu harus memampukan saya terlebih dahulu atau boleh d lempar pada pihak le 3, contoh anak pertama sya laki2 umur 4,5 tahun blm mau belajar ngaji, dan bijak kah saya menyuruh pihak ke 3 untuk mengajar mengaji?

3. Apa yg harus saya lakukan ketika saya berbuat salah dan anak menirunya, apakah cukup dengan merubah sikap saya atau perlu saya komunikasikan juga dengan anak?

Jawaban :

 Dear teh nenih
1. mengacu pada pijakan bunda sayang, komunikasi adalah yang pertama kita perbaiki. karena basic kita dalam berhubungan baik ke anak, pasangan orang lain adalah komunikasi

2. home based education bukan berarti semua diambil alih sendiri, bisa didelegasikan apabila kita tidak mampu dan tidak mmpunyai ilmu tersebut. dalam pembelajaran sebaiknya jangan ada pemaksaan, karena hanya menghasilkan penolakan. oya umur 4.5th kenapa sudah harus belajar mengaji?

3. ya, ajak anak berkomunikasi, meminta maaf jika kita punya salah, jelaskan bagaimana seharusnya perbuatan yang benar, lalu saling bersepakat untuk mengubah dan mengingatkan ✅


Pertanyaan 15.  Teh Windy

1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan setiap ibu untuk dapat menyelesaikan setiap tahapan ? Faktor apakah yg mempengaruhi cepat lambatnya menyelesaikan setiap tahapan?

2. Apakah mungkin bisa saja terhenti ditengah tengah tahapan dan tidak bisa melanjutkan hingga akhir?jika iya bagaimana utk menghindari hal tersebut?

Jawaban :

Tentang tahapan belajar iip sdh ada dijwbn sebelumnya.
faktor yang memperlambat: mengizinkan mr.ah hinggap ~ ah nanti aja, ah susah ah...dst

mempercepat: 
-bertemu langsung dengan para ahli atau orang yang sudah berpengalaman

-praktek

-sharing apa yg sudah dipraktekan

2. kuatkan niat dan tetaplah bersama orang-orang yang se-value untuk mnjaga semangat belajar. jika putus ditengah jalan insyaAllah bisa disambung ✅


Pertanyaan 16. Teh Siti Nurjannah

1. Dalam tahapan menjadi ibu profesional point c (bunda produktif) apa yang di maksud dngn produktif disini khususnya kalimat "produktif dngn bahagia tanpa harus meninggalkan anak&klg ini berkaitan dengan sesuatu yang dapat menghasilkan uang (selalu harus materi) ?

2. Indikator keberhasilan ibu profesional point bunda produktif khususnya point a
Bagaimana cara menemukan minat & bakat kita sesungguhnya?

Jawaban :

Dear teh siti
1. produktif di ibu profesional tidak selalu berkaitan dengan materi. karena rezeki itu pasti, kemuliaan yg harus dicari✅

2. nanti di materi dan nhw selanjutnya ada bahasan tentang ini stay tune yaa ✅


Pertanyaan 17.  Teh Lisna Sari

Sering disebutkan meningkatkan "kualitas ibu". Bagaimana tolak ukur menjadi seorang ibu yang berkualitas untuk keluarga ? Dan apa saja faktor pendukung agar seorang ibu tersebut menjadi berkualitas ?

Jawaban :

Dear teh Lisna, tolak ukur keberhasilan ibu: tanya customer anda: anak dan suami.

faktor pendukung: upgrade ilmu dan jadilah ibu yang bahagia karena kebahagiaan itu menular ✅


Pertanyaan 18. Bu Elly

Bagaimana kiat menjadi ibu yang menjadi kebanggan keluarga? Karena saya banyak di rumah dan mungkin kurang kreatif dan rasanya bosan, padahal saya suka koleksi buku-buku edukatif dan menemani mereka baca dan belajar. Kebanyak ibu2 ingin resign saya malah pengen kerja karena merasa kurang aktualisasi..

Jawaban :

Dear teteh, tidak ada yang bertentangan dengan aktualisasi diri dan mengasah bakat dengan mendidik anak, seperti cerita yg saya kisahkan di jwbn di atas ✅


Pertanyaan 19. Teh Rosa

Iya Teh mau Tanya kan untuk praktek, apakah ada hal yg bias saya lakukan saat ini mengingat saya belum menikah, tapi sudah mendapatkan teori?

Jawaban :

Di nhw selanjutnya akan ada nhw untuk single.. stay tune..keren kan blm menikah ilmunya udah mumpuni praktknya lbh mudah dibanding saya yg telat belajar


Pertanyaan 20. Teh Hajah

BAngga menjadi ibu-ibu (khususnya yg bekerja ranah domestic) itu, realnya seperti apa? Sejujurnya pernah juga merasa seperti pertanyaan no.18. dan bagaimana cara untuk bias sampai tahap itu?

Jawaban :

Dear teh hajah, bangga menjadi ibu domestik itu realnya adalah sudah tidak mendengarkan suara dan nyanyian sumbang atau merasa ada tatapan yg sbelah mata saja. karena indikator sukses kita bukan dari mereka.✅

Prosesnya pasti perlu waktu.. dimulai dengan mngubah mindset dan penerimaan diri bhwa saya ibu bkerja domestik dan saya bngga..kalau kita sendiri aja ga merasa bangga, ada suara sumbang sedikt,akan mudah goyah.

 


Pertanyaan 21.  Teh Fathiah

Mau Tanya, maaf kalo OOT NHW #1 boleh direvisikah? Kalau boleh direvisi cukup disimpan sendiri atau dilaporkan lagi?

Jawaban :

Silakn direvisi pribadi teh..

Pertanyaan 22.  The Farah Luthfia

Jika seorang ibu bekerja lebih karena merasa bertanggung jawab kepada kepentingan public, suami sih oke Cuma anak-anak usia 2th dan 4 th lbh ingin ibunya ‘dasteran’ aja dirumah lbh homie kata mereka? Bagaimana menjembatani hal seperti itu?

Meski bonding kita kuat, secara kemana-mana nempel terus kecuali tempat saya bekerja. Karena area kerja saya di rumah sakit jd seminimal mungkin dibawa ke tempat kerja.

Jawaban :

Dear the farah, memahamkan ke anak yang usianya dibawah 7 tahun dimana secara otak mereka belum bersambungan adalah dengan pengulangan.

Ceritakan betapa mulianya tugas tenaga medis, membantu orang lain dan banyak dibutuhkan orang ceritakan dengan buku bagaimana ibu bekerja disana. Sesekali ceritakan kisah di kantor pengalaman menarik saat bertemu pasien dll.. in syaa allah lama-lama mereka paham.
   
 

 

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Salam Ibu Profesional,

Nafsa Karima
MIP batch #3, Bandung 1